Blog

Bagaimana Bendera Pelangi Menjadi Simbol Kebanggaan LGBTQ?

Bulan Juni dikenal sebagai Bulan Kebanggaan LGBTQ (LGBTQ Pride Month), sebagai bentuk penghargaan atas kerusuhan Stonewall, yang terjadi di kota New York pada Juni 1969. Selama Pride Month, bukanlah hal aneh melihat bendera pelangi berkibar dengan megahnya sebagai simbol bagi perjuangan hak-hak LGBTQ. Namun, bagaimana bendera tersebut menjadi simbol kebanggaan LGBTQ?

Alkisah pada tahun 1978, ketika seniman Gilbert Baker, seorang yang secara terbuka mengaku dirinya Gay dan juga merupakan seorang waria, mendesain bendera pelangi untuk pertama kalinya. Baker kemudian mengungkapkan bahwa beliau didesak oleh Harvey Milk, satu dari pejabat Amerika Serikat yang secara terbuka menyatakan dirinya gay, guna menciptakan simbol berupa sebuah bendera dikarenakan beliau berpendapat bahwa bendera adalah simbol yang paling kuat guna menunjukkan kebanggaan. Sebagaimana beliau kemudian menyampaikannya dalam sebuah wawancara, “Tugas kita sebagai seorang gay adalah untuk berani mengungkapkan diri, untuk dapat dilihat, untuk hidup dalam kebenaran, sebagaimana saya sampaikan, untuk keluar dari kebohongan. Bendera akan benar-benar memenuhi misi tersebut, karena hal tersebut adalah jalan untuk memproklamasikan eksistensi kita atau berkata , “Inilah aku yang sebenarnya!” Baker memandang bahwa pelangi sebagai bendera natural dari langit, sehingga beliau mengadopsi delapan warna dalam bentuk garis, setiap warna memiliki arti masing-masing (pink cerah berarti seksi. merah berarti kehidupan, oranye berarti peyembuhan, kuning berarti sinar mentari, hijau berarti alam, pirus berarti seni, nila berarti harmoni, dan ungu berarti semangat).

Versi pertama dari bendera pelangi dikibarkan pada 25 Juni 1978 ketika parade Hari Kebebasan Gay San Fransisko. Baker dan tim sukarelawan membuatnya dengan tangan mereka sendiri dan saat itu beliau ingin untuk memproduksi massal bendera tersebut untuk semua orang. Namun, dikarenakan alasan produksi, garis warna pink dan pirus kemudian dihapus dan warna nila kemudian diganti dengan warna biru polos, yang kemudian menghasilkan bendera enam warna kontemporer (merah, oranye, kuning, hijau, biru dan ungu). Inilah yang menjadi varian paling umum dari bendera pelangi saat ini, dengan garis warna merah di atas, sebagaimana terdapat di pelangi yang terjadi secara alamiah. Beragam warna yang muncul merefleksikan baik keanekaragaman yang kuat serta persatuan komunitas LGBTQ.

Baru pada tahun 1994 bendera pelangi benar-benar ditetapkan sebagai simbol kebanggaan LGBTQ. Pada tahun itu Baker membuat versi bendera dengan panjang 1 mil untuk perayaan 25 tahun kerusuhan Stonewall. Saat ini bendera pelangi menjadi simbol internasional bagi kebanggaan LGBTQ dan dapat dikibarkan dengan penuh kebanggaan, baik pada periode yang menjanjikan maupun periode sulit, di seluruh dunia.      
*Artikel ini merupakan terjemahan dari Artikel yang ditulis oleh Nora Gonzalez pada laman berikut: https://www.britannica.com/story/how-did-the-rainbow-flag-become-a-symbol-of-lgbt-pride. Disunting dan diedit seperlunya oleh Tim Penerjemah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s