Blog

Bagaimana Menjadi Sekutu? Proses Penyembuhan dan Pembelajaran

Oleh : Gadis Bhinneka

Allies atau dalam Bahasa Indonesianya artinya sekutu (untuk selanjutnya aku memakai kata sekutu). Kata ini sering digunakan teman-teman LGBTQ untuk menamakan dia atau mereka hetero yang mau sama-sama berjuang untuk kemanusiaan teman-teman LGBTQ. 

Kata sekutu pertama aku dengar tahun lalu ketika aku diperbolehkan untuk hidup bersama teman-teman LGBTQ selama lima hari empat malam. Kami menghabiskan waktu mulai dari tidur bersama, makan bersama, bekerja bersama, belajar bersama, tertawa bersama, mencoba untuk menyembuhkan diri bersama. Boleh ku bilang itu adalah salah satu pengalaman berhargaku. Saat mendengar kata ally disebutkan untuk diriku sesungguhnya aku bingung, terlebih-lebih karena aku tidak tau artinya dalam bahasa Indonesia saat itu. Terimakasih teman-teman kalian menambah kosa kata ku.

Setelah kebingung dengan arti kata dan akhirnya mengetahui artinya. Ku kembali bingung dan berpikir mengapa mereka sebut aku sebagai sekutu?. Jika boleh aku berpede diri, mereka menerima diriku dan memberi rasa percaya padaku. Dan begitu sebaliknya. Menjadi sekutu adalah ikatan dua belah pihak. 

Penerima dan memberikan percaya adalah sebagaian hasil dari proses. Bukan muncul dari ketiadaan. Bagiku proses beberapa waktu kami (aku dengan teman-teman LGBTQ) lalui bersama adalah proses pembelajaran dan penyembuhan diri. 

Hidup di zaman yang membenci dengan membabi buta tanpa landasan kepada teman-teman LGBTQ banyaknya mempengaruhi pola pikirku sebelumnya. Mereka adalah kesalahan, penyakit, pendosa, tidak beriman, gaya hidup (?) yang salah. Mengingat ini buatku kadang tertawa sekarang, betapa bodohnya aku dulu. Ini langkah awal pembelajaranku kesadaran atas kesesatan pikiranku.

Ku memilih untuk melepaskan stigma-stigma jahat dari kepalaku dengan berbahagia. Teman-teman LGBTQ bukan ada karena kehidupan masa lalu yang kelam seperti ayah atau ibu yang jahat sehingga membuat mereka membenci lawan jenisnya. Kurangnya ibadah atau iman. Ikut-ikutan kehidupan barat. Pengalaman dengan pacaran yang orang racun. Atau tertular dari seorang yang memiliki orientasi seksual bukan hetero. Mereka bukan pembawa bencana ataupun kesialan bagi orang lain. 

Sekali lagi itu semua adalah stigma dan kesalahan. 

Orientasi seksual mereka sewajarnya orientasi seksual kita, para hetero. Sewajar itulah seharusnya. 

Kesulitan kita menerima kewajaran ini nyatanya sangat berdampak ke kehidupan mereka. Penghinaan, diskrisminasi, penolakan, perasaan tidak aman, pemiskinan. Banyak cerita teman-teman yang harus menjalani hidup yang keras sejak kecil atau remaja karena terusir dari rumah, harus melacurkan diri untuk bertahan hidup, ditolak lingkungan, tidak bisa bekerja atau bersekolah.

 Kesulitan-kesulitan dihadapi bahkan sampai berakibat mereka kehilangan nyawa atau martabatnya sebagai manusia. Contoh terdekat  seperti kejadian Mira, seorang waria, yang dibakar hidup-hidup dengan tuduhan tidak mendasar  dibilang maling atau youtuber sampah Ferdian yang membuat konten yang juga sampah prank memberi sembako sampah ke teman-teman waria. 

Pengalaman pahit ataupun tragedi kemanusiaan ini buatku sadar bahwa perjuangan teman-teman bukan hanya kebebasan berekspresi seperti yang selama ini dijadikan bumerang bagi mereka. 

Aku ingat yang dikatakan Kanza Vhina atau teman-teman lain. Perjuangan mereka bukanlah sebatas melegalkan perkawinan sesama jenis. Itu terlalu jauh dan terlalu sempit. Kesempatan mengakses pendidikan, pelayanan kesehatan, administrasi sebagai warga negara tanpa diskriminasi, hinaan. Pendapat pekerjaan yang layak secara aman. Perasaan aman untuk tinggal dirumah sendiri. Perjuangan untuk hidup selayaknya manusia.

Seperti yang ku tuliskan diatas, ini merupakan proses pembelajaran dan penyembuhan diri. Yah.. penyembuhan diriku, membebaskan diri dari racun-racun kebencian tak mendasar,  prilaku diskriminasif, pewajaran atas dehumanisasi seorang manusia, matinya empati. 

Membuka mata melihat dunia ini seperti bendera pelangi. Ada berbagai macam warna yang mengisinya. Mereka semua  indah dan merupakan satu ke satuan. Bukan hanya hitam atau putih.

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk ikut mendukung perjuangan teman-teman LGBTQ. Semua tergantung pada konteks dan keadaannya. Namun menurutku, pertama yang harus dilakukankan adalah merekontruksi pemikiran. Kita mulai dari membuat ladasan berpikiri yang baru dengan menghancurkan pemikiran  tentang stigma atau kesalahan informasi yang selama ini bersarang dipikiran kita mengenai teman-teman LGBTQ. Sehingga jika nanti kita memiliki keluarga, anak atau sahabat apapun  orientasi seksual mereka. Kita bisa menyatakan mengatakan bahwa itu adalah sebuah kebanggaan bukan kesalahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s