Blog

Adil dan Beradab : Cara Pandang atas Kelompok LGBT

Oleh : Stef

“Kita harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan,” -Pramoedya Ananta Toer-

Kalimat kakek Pram diatas menjadi yang pertama sekali terbesit dipikiranku ketika ingin membuat tulisan ini. Bagaimana kita menjadi seorang allice atau sekutu bagi kelompok minoritas yakni Lesbian, Gay, Transgender, and Bisexual (LGBT). Tak bisa dipungkiri, sampai saat ini LGBT kerap kali mendapatkan tindakan diskriminasi dari masyarakat.

Stigma yang negatif serta ortodok agama, nilai sosial dan moral menjadi acuan dan pedoman bagi banyak orang untuk membenci kelompok LGBT. Laporan dari Human Rights Watch (HRW) menunjukkan bahwa kepanikan moral (moral panic) anti LGBT sudah ada sejak awal 2016.

Bahkan hasil survei dari Saiful Mujani Reaserch Center (SMRC) pada 2016-2017 menunjukkan bahwa 41,1% responden tidak setuju LGBT berhak hidup di Indonesia. Hasil riset tirto.id dua tahun kemudian juga menunjukkan sebanyak 55,72% responden sangat setuju dengan pernyataan “menjadi LGBT adalah salah”.

Hal ini juga dapat dibuktikan dengan kasus yang baru-baru ini terjadi yakni Mira seorang transgender yang dibakar hidup-hidup tanpa melalui proses apapun. Bahkan sampai sekarang pihak kepolisian belum berhasil untuk mengusut tuntas kasus ini.

Yang paling buat geger media dan kalangan adalah aksi prank yang dilakukan oleh youtuber asal Bandung Ferdian Pelaka dimana memberikan bungkus sampah dan batu kepada teman-teman waria dengan dalih pembagian sembako.

Tak hanya di kalangan masyarakat, bahkan sikap diskriminasi terhadap LGBT merambah ke dunia akademik yang dimana seharusnya menjunjung tinggi budaya kritis serta toleransi. Ini bisa dibuktikan dengan kasus saya di tahun lalu yakni Pembredelan Pers Mahasiswa SUARA USU dikarenakan sebuah cerpen bertemakan seorang perempuan yang menyukai sesama perempuan. 

Alhasil saya dan 17 orang teman saya dipecat sebagai pengurus. Lagi-lagi alasan yang dikemukakan adalah bahwa mahasiswa harus menaati norma serta nilai-nilai sosial yang ada di masyarakat. Ironis.

Padahal LGBT bukan lah penyimpangan sosial ataupun agama yang sering digaungkan oleh banyak orang. Atau mengatakan bahwa LGBT adalah suatu penyakit dan wadah penyebaran HIV/AIDS. Sejatinya kita harus memahami bahwa kelompok LGBT merupakan bentuk dari orientasi seksual seseorang.

Yang dimana orientasi seksual merupakan istilah dari ketertarikan secara seksual, emosional, serta jenis kelamin terhadap orang lain. Faktanya, berbicara seksualitas menjadi hal yang tabu hingga saat ini. Sehingga sering terjadinya gagal paham dari berbagai pandangan. Bahwa seksualitas dipahami sangat sempit sebagai hubungan seksual semata.

Secara garis besar orientasi seksual mencakup heteroseksual (ketertarikan seksual terhadap lawan jenis), homoseksual (ketertarikan seksual terhadap lawan jenis), serta biseksual (ketertarikan seksual pada kedua jenis kelamin). 

Namun ada berbagai bentuk lainnya seperti adroseksualitas (memiliki ketertarikan maskulinitas), gineseksual (memililki ketertarikan terhadap feminitas), aseksual (orang yang tidak memiliki ketertarikan seksual), demiseksual (ketertarikan seksual yang muncul ketika adanya ikatan hubungan yang kuat), panseksual (ketertarikan seksual kepada segala jenis gender termasuk transgender, transseksual serta gender queer), queer (semua identitas non gender dan non heteroseksual), dan autoseksual (kepuasan seksual yang berasal dari rangsangan dalam dirinya sendiri).

Semuanya merupakan konsep diri dan terjadi secara alami tanpa paksaan apapun. Sudah seharusnya kita lebih terbuka terhadap literasi agar tak gagal paham. Kurangnya edukasi serta pengetahuan menjadi landasan munculnya kekerasan terhadap kelompok LGBT .

Pun orientasi seksual merupakan bentuk hak privasi dari dalam diri seseorang yang tak bisa di ganggu gugat. Hal ini diatur di dalam undang-undang pasal 28 G ayat 1 yang mengatakan bahwa “Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang berada dibawah kekuasaannya, serta berhak dari rasa aman dan perlindungan dari ketakutan ancaman….”

Kita juga harus menyadari bahwa kelompok LGBT juga manusia. Mereka sama seperti manusia lainnya. Itu artinya mereka juga mempunyai hak yang sama.  Lantas mereka tak berhak untuk didiskriminasi dan menerima tindakan kekerasan bahkan sampai menghilangkan nyawa seseorang. 

Ini pun turut diatur di dalam undang-undang pasal 28 I ayat 1 yang mengatakan “hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di depan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang surut, adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun”.

Dari semua penjelasaan diatas sudah sangat jelas bahwa kita sepatutnya untuk membela mereka yang termarjinalkan. Bahwa apa yang terjadi kepada kelompok LGBT merupakan suatu bentuk pelanggaran HAM dan penindasan. Sudah sepatutnya kita sebagai manusia yang berakal dan berhati nurani untuk tidak diam akan hal ini.

Pahami lah bahwa nilai sosial dan moral bukan sesuatu yang mutlak. Nilai-nilai sosial dan moral merupakan budaya yang diciptakan dan sewaktu-waktu dapat berubah. Begitu juga dengan agama. Saya yakin, agama manapun mengajari kita untuk tidak saling menyakiti sesama manusia.

Sadari lah bahwa kita tinggal di negara yang berlandaskan Pancasila serta bersimbolkan bhineka tunggal ika. Perbedaan itu indah dan kita harus memupuk persatuan dan toleransi agar tak bias. Sehingga perwujudan dari sila kedua yakni kemanusian yang adil dan beradab menjadi nyata eksekusinya. Karena kemanusiaan tumbuh saat kita bersikap adil dan menerima orang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s