Blog

Melakukan Hubungan Seks Sejenis di Lapas Bukan Berarti Gay

Melakukan hubungan seks sesama jenis belum tentu punya orientasi seksual sesama jenis juga. Kedua hal tersebut tak selalu sinkron.

Berdasarkan kasus yang dikutip oleh Suara.comDampak kelebihan kapasitas pada lembaga pemasyarakatan (Lapas) atau Rumah Tahanan Negara (Rutan) dapat menyebabkan sifat perubahan orientasi seksual pada narapidana. Narapidana bisa jadi gay dan lesbian di penjara.

 Hal itu dikatakan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Jawa Barat, Liberti Sitinjak. Dia mengilustrasikan seorang yang sudah berkeluarga dan masuk lapas, kebutuhan biologisnya tidak tersalurkan.

Dari hasil wawancara bersama Koordinator Penanganan Kasus LBHM Afif Abdul Qoyim, mengungkapkan bawah pernyataan yang dilontarkan Kakanwil Kemenkumham itu justru menjadi pernyataan yang secara sengaja mendiskriminasi Komunitas LGBTI yang memiliki orientasi berbeda. Ia juga mengkhawatirkan pertanyaan tersebut akan semakin menambah berbagai  stigma dan diskriminasi pada Komunitas LGBTI.

Di dalam UUD 1945 Bab XA tentang Hak Asasi Manusia, menyebutkan bahwa pada dasarnya telah di cantumkan hak-hak yang dimiliki oleh setiap orang atau warga negara. Pada pasal 28 I angka 2 ditetapkan bahwa setiap orang berhak bebas dari perlakuan diskriminatif atas dasar apapun, dan berhak mendapatkan perlindungan dari tindakan diskriminatif itu. Disebutkan pula dalam pasal 28 I angka 4 UUD 1945 bahwa negara, terutama pemerintah bertanggung jawab untuk memberikan perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan hak asasi manusia.

 

“Sangat jelas disebutkan ketentuan bagi warga negara untuk mendapatkan dan dilindungi hak-haknya sebagai warga negara tanpa ada diskriminasi,” ujarnya.

 

Dalam kasus ini Kemenkumham juga ingin melakukan pemisahan sel tahanan pada tahanan yang memiliki orientasi seksual berbeda. Hal ini malah akan menjadi pemicu kekisruhan di lapas itu sendiri. Kurangnya tanggung jawab petugas lapas mungkin memang harus diperhatikan dalam kasus stigma dan diskriminasi seperti ini.

Metode metode penyelesaian dalam kasus ini mungkin bisa dilakukan dengan intervensi memberikan pengetahuan pada para napi tentang hak kesehatan, atau juga pemenuhan hak akses kesehatan, hak bebas, dan tidak membatasi ruang gerak di lapas. Lapas harusnya menjadi tempat fasilitas tahanan yang dapat mensejahterakan tahanan, bukan malah menjadi tempat penyebaran stigma yang mendiskriminasi.

Seperti yang diketahui dalam ilmu SOGIESC, orientasi seksual adalah ketertarikan manusia terhadap manusia lain yang melibatkan rasa emosi dan romantis, dan atau seksual. Termasuk dalam kasus ini, jika seseorang hanya melakukan hubungan seks dengan sesama jenis bukan berarti dapat dilabeli orientasi seksual seseorang menjadi Gay/Lesbian. Sedangkan di dalam definisi SOGIESC Orientasi seksual tidak melibatkan prilaku seksual.

Kebutuhan biologis memang tidak dapat elakkan, dari setiap manusia, dan juga tidak bisa dibatasi termasuk di dalam lapas sekalipun. Oleh karena hal tersebut merupakan kebutuhan dasar manusia, maka pemerintah selayaknya memberikan akses pada setiap narapidana untuk dapat memenuhi kebutuhan biologis mereka.

 

Penulis : Cut Shofie Adian & Ecuardo Putra Ramadhan

Satu tanggapan untuk “Melakukan Hubungan Seks Sejenis di Lapas Bukan Berarti Gay”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s