Blog

Jangan Panggil Aku Kingkong Bencong

Aku adalah seorang laki-laki yang berusia tujuh tahun pada saat itu. Tubuhku  lebih gemuk dari teman-teman seumuranku. Kata mama, berat badanku sekitar 32 kilo. Wajahku jauh dari kata cakep, pipiku tembem, perutku gendut, mata belok, dan hidungku juga pesek.

Hari pertama masuk sekolah adalah hari yang sangat yang tidak aku tunggu-tunggu  karena aku yakin semua teman-teman sekolah aku akan memperundungku. Hari  Senin pun tiba, mamaku membangunkan tepat pukul setengah 6 enam pagi. Rasa kantukku masih menyelimuti mata , tapi apa boleh buat guncangan tangan mama selalu membangunkanku. Mandi dengan rasa malas yang masih mengintai dibadanku.

Selesai mandi mama membantuku untuk menyiapkan pakaian hingga rapi. Mulai dari kancing bajuku hingga disisirnya rambutku sampai klimis. Ada satu momen yang paling aku tidak suka, yaitu ketika mama menyiapkan bedak untuk membasuh mukaku. Ketika berkaca aku sangat terkejut ketika melihat wajahku sudah seperti kue donat  bantet yang ditaburi gula bubuk.

Rasa berat hati untuk melangkahkan kaki ke sekolah selalu menghantuiku. Di perjalanan aku takut teman-teman di sekolah semua menertawakan dan mengejek, aku merasa diriku adalah orang yang paling jelek sedunia. Namun selama perjalanan, mama selalu memujiku bahwa aku adalah orang yang paling tampan di kehidupannya. Dalam hatiku, walaupun itu hanya pujian belaka, tapi aku sangat bangga dengan mamaku. Dia tidak pernah bilang sedikitpun aku jelek, dia memang mamah yang paling baik sedunia.

Tidak lama akupun sampai di depan gerbang sekolah. Mama mulai mencari di mana ruangan sekolahku berada. Saat sudah ketemu, mamaku pun menyuruhku masuk ke dalam kelas dan aku menurutinya. Ketika aku masuk ke kelas, beberapa mata tertuju padaku. Rasa takut dan deg-degan beraduk, selagi kulangkahkan kaki menuju bangku yang kosong, aku juga memperhatikan beberapa mata yang memandangku tadi. Ada yang melihatku aneh, ada yang melihatku tersenyum, ada yang melihatku sambil berbisik kepada temannya, dan ada juga yang acuh tak acuh terhadapku.

Mamaku menunggu di luar hingga jam pulang, sedangkan aku di dalam merasakan  kecemasan yang luar biasa. Sesi yang sangat tidak aku sukai pun tiba, dan suasana kelaspun dipenuhi  42 siswa/siswi.  berlangsung satu persatu hingga kini giliranku tiba.  Rasa gugup, takut, dan binggung bercampur aduk. Dalam pikiranku bertanya-tanya apa yang harus aku  sampaikan sekarang?

Aku sempat terhenti beberapa detik hingga akirnya keluarlah kata perkenalan dari mulutku. Kuperkenalkan nama, umur, dan tempat tinggal. Aku terhenti dengan tubuh yang gentar melihat semua mata yang ada di kelas itu tertuju padaku. Tiba tiba guruku bertanya tentang hobiku. Aku diam dan memikirkan hobiku. Spontan kujawab, “hobbku adalah menyanyi.”

Lalu guruku bertanya lagi,”dan apa cita-citamu?” Aku menjawab dengan spontan, “aku ingin menjadi artis.” Sontak  seisi ruangan kelas menjadi riuh dengan tertawaan mereka, sangat jelas di telingaku mereka mengejek, “artis kok gendut, mata jengkolan kaya bayi kingkong, dan suara seperti badut.”

Saat itu juga  hatiku hancur berkeping-keping, aku tidak menyangka akan mendengar perkataan itu yang mungkin akan aku ingat seumur hidupku. Aku lemas dan terduduk tanpa diberi aba-aba oleh guruku. Dalam diamku aku sama sekali tidak memperhatikan teman-teman lain yang sedang berkenalan hingga akirnya bel pulang berbunyi.

Aku bergegas menghampiri mama yang sedari pagi menunggu. Aku memeluk dan menangis sejadi-jadinya hingga menjadi bahan tontonan kawan kawanku di sekolah. Di perjalanan pulang aku bercerita kepada mamahku apa yang sebenarnya terjadi di kelas tadi. Sambil terisak lirih mama merangkul dan menguatkanku. Di dalam dekapannya mama berkata, “jangan jadikan ejekan temanmu sebagai senjata yang dapat melumpuhkanmu, jadikanlah ejekan teman-temanmu itu sebagai motivasi untuk kamu berubah dan menjadi seseorang yang lebih baik, dan tidak seperti yang mereka katakan.” Sontak kata-kata itupun terekam jelas didalam pikiranku hingga saat ini.

Hari berganti, mengikuti ekstra kulikuler pelajaran olahraga. Ketika jam olahraga itu berlangsung, giliranku menendang bola ke gawang, entah kenapa pada saat aku menendang bola tersebut bola itu selalu meleset. Aku berpikir ada apa dalam diriku atau karena berat badanku terlalu besar sehingga kakiku tidak sanggup untuk menendang bola itu.

Lagi-lagi aku mendapatkan ejekan dari teman-teman kelasku, ejekan yang sekarang ini jauh lebih menyakitkan dibandingkan kemarin. Mereka mengatakan aku gendut, aku cemen, dan aku diejek kingkong yang seperti bencong.

Sakit sekali hati aku mendengar perkataan mereka semua. Bergegas lari ke kelas  dan duduk dan terdiam menunduk. Tiba-tiba ada satu orang teman perempuanku menghampiriku. Dia pun berkata, “kamu kenapa? Namakamu siapa? Ayo kita jaja.” Aku terkejut tak menyangka masih ada orang yang mau berteman denganku, nama sosok teman perempuanku itu adalah Yuli.

Hari demi hari aku merasa tidak sendiri lagi karena ada Yuli yang selalu menemaniku selama di sekolah dasar. Kini aku beranjak dewasa, umurku 13 tahun, perubahan fisikku sudah mulai terlihat, berat badanku yang gendut itu sudah berangsur berkurang, tapi julukan ‘kingkon bencong’ masih terekam di pikiranku saat ini.

Aku tidak pernah melupakan sosok siapa saja orang-orang yang selau mengejekku, akan kuingat mereka dan kubuktikan pada mereka dengan prestasi yang akan kudapatkan nanti.

Saat ini aku kelas enam sekolah dasar dan esok adalah hari perpisahan. Aku merasa sangat senang karena akan berpisah dengan teman-teman yang sangat menjengkelkan itu, tapi aku juga akan sangat sedih berpisah dengan sahabatku Yuli, satu-satunya teman yang kupunya selama aku menuntut ilmu di sekolah dasar ini.

Aku mulai memperhatikan penampilanku di usiaku yang ke 13 tahun ini, aku sudah tidak gendut lagi, rambutku pun sudah tidak klimis, aku sudah bisa menententukan gaya rambut yang kuinginkan. Aku sudah menentukan sekolah mana yang kupilih untuk menjadi tempatku meneuntut ilmu tiga tahun ke depan. Akhirnya aku bersekolah di sekolah menengah pertama negeri terbaik di daerahku. Aku sekarang mempunyai teman lebih dari satu. Ada Deny, Tio, Rona, dan juga Zizah. Dibandingkan teman yang lain, mereka sangat baik padaku.

Dua tahun berlalu, kini usiaku beranjak 15 tahun. Aku terkejut dengan perubahan fisikku. Badanku yang dulu gendut sekarang sudah kurus, pipiku yang dulu cabi sekarang udah tirus, dan mataku yang seperti jengkol dan hidungku yang pesek seolah berekontruksi mengikuti perubahan tubuhku. Percintaanpun dimulai, aku mulai menyukai gadis bernama Kaisha, ia cantik dan rambutnya panjang. Ketika aku and the genk berniat untuk foto studio di mall,  anehnya ketika foto studio berlangsung aku diminta foto sendiri, tapi oke lah aku tidak menaruh curiga.

Peristiwa anehpun terjadi pada Senin pagi ketika upacara berlangsung, kepala sekolahku marah-marah di depan lapangan. Dia membawa sebuah map dan memanggil namaku ke depan lapangan. Aku terkejut, ada masalah apa aku dengan sekolah. Aku disuruh membaca apa isi dari map tersebut. Seluruh siswa dari kelas satu sampai tiga melihatku. Kubuka map itu dan terkejut dengan isi bacaannya. Tenyata aku berhasil lolos dan masuk 25 besar mewakili Jawa Barat dan sekolahku diajang pemilihan cover boy majalah terkenal di Indonesia. Aku juga heran, aku tidak pernah sama sekali mengirim fotoku ke majalah tersebut.

Ketika di kelas, genkku itu bersorak sorai gembira memelukku. Ternyata mereka lah yang mengirimkan fotoku secara diam-diam. Dari situlah awal prestasiku dimulai. Pada tahun itu juga aku menjadi putra sekolah, setelahnya aku dikontrak satu tahun di Jakarta untuk mengikuti kelas modeling. Sampai saat ini aku mengikuti alur hobi dan jalan hidupku karena bagiku menjadi seorang yang berbeda tidakalah selalu menyakitkan. Berbeda bagiku adalah tahap awal untuk menjadi pribadi yang berhasil yang dapat menyenangkan dan menghibur orang lain.

 

Penulis : Cut Shofie Adian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s