Blog

Mengitkuti Perayaan Pride Month adalah Hak Setiap Individu

Belakangan ini publik dihebohkan dengan perayaan yang dilakukan di New York, di mana beberapa orang dari Indonesia ikut serta menghadiri perayaan tersebut. Pride Month sendiri adalah perayaan komunitas LGBTQ atas persitiwa bersejarah yang terjadi di Stonewall Inn Greenwich Village, New York pada tanggal 28 Juni 1969.

Pada masa itu, Stonewall adalah nama sebuah bar yang dikunjungi oleh komunitas gay dan dijadikan tempat berkumpul, bersosialisasi para aktivis pada saat itu, tanpa adanya merasakan diskriminasi dari masyarakat. Persitiwa di Stonewall yang berujung kerusuhan bermula ketika polisi menangkap karyawan yang menjual minuman alkohol dan  juga menangkap semua pengunjung bar yang pakaiannya dinilai tidak sesuai dengan jenis kelamin yang berlaku umum pada saat itu.

Peristiwa tersebut kemudian berujung pada aksi demonstrasi besar selama lima hari yang menuntut penghapusan diskriminasi kepada kelompok LGBTQ. Berlatar persitiwa tersebut, pada bulan Juni tiap tahunnya selalu diperingati sebagai Pride Month oleh kelompok LGBTQ di New York, dan di berbagai belahan dunia dengan beragam aktivitas.

Perayaan Pride Month di New York dilakukan oleh berbagai kelompok LGBTQ yang datang dari berbagai negara dengan tujuan untuk memperingati hari yang bersejarah menurut mereka. Biasanya mereka melakukan parade sepanjang bar gay, konser musik, dan lainnya. Para peserta membawa perangkat seperti bendera negaranya masing-masing, dan bendera pelangi yang menjadi ikonik dari kelompok LGBTQ.

Adapun bendera pelangi itu dibuat oleh Gilbert Maker pada tahun 1978 di mana masing-masing warna memiliki arti tersendiri. Warna Merah Muda dimaknai sebagai simbol seks, Merah sebagai penanda kehidupan, Oranye berarti penyembuhan, Kuning sebagai warna yang identik dengan sinar Matahari. Adapun warna Hijau simbol dari alam, Turqoise atau warna Hijau kebiruan merupakan simbol seni, sementara warna biru diartikan sebagai warna kedamaian, dan Ungu menunjukan semangat.

Sayangnya perlakuan yang didapat oleh komunitas LGBTQ hingga hari ini tidak seindah bendera ikonik yang mereka punya. Kelompok LGBTQ masih saja mendapatkan diskriminasi dari kalangan masyarakat umum, akibatnya LGBTQ hari ini masih saja sulit untuk bisa mengakses pekerjaan dengan baik. Melalui  perayaan Pride Month ini, komunitas LGBTQ berharap dapat menghilangkan padangan buruk publik terhadap komunitas LGBTQ. Mereka juga ingin diperlakukan sama dengan yang lain tanpa dibedakan, dan juga mengajarkan kita bagaimana menghargai satu sama lain meskipun mempunyai pikiran ekspresi dan orientasi seksual yang berbeda.

Pride Month 2019

Perayaan Pride Month tahun 2019 dihebohkan dengan kehadiran Dena Rachman, warga negara Indonesia yang datang ke New York. Fotonya yang beredar di dunia maya menuai pro dan kontra karena mengibarkan bendera Merah Putih di acara Pride Month tersebut, dan membagikan moment tersebut di Instagramnya.

Menanggapi prokontra tersebut, Audy yang juga merupakan anggota komunitas LGBTQ menilai bahwa yang dilakukan oleh Dena Rachman adalah hal yang wajar, bahkan dianggap positif. Keberanian Dena Rachman dalam mengekspresikan dirinya bisa menjadi contoh atau bisa menjadi semangat bagi transgender lainnya bahwa mereka tidak sendiri. Bahkan Audy menganggap aktivitas Dena Rachman bisa membongkar stigma negatif yang selama ini melekat pada diri transgender di mata masyarakat umum yang beranggapan bahwa transgender itu identik dengan pekerja seks atau pengamen.

Kehadiran Dena Rachman juga mendapat dukungan baik dari berbagai komunitas LGBTQ di Indonesia karena mengganggap Dena Rachman peduli terhadap komunitas LGBTQ, dan dia mempergunakan privilegenya dengan baik untuk membela dan menyuarakan kelompok LGBTQ. Kehadirannya juga bisa berdampak baik bagi komunitas LGBTQ di Indonesia karena negara lain bisa mengetahui bahwa Indonesia juga peduli tentang perayaan Pride Month untuk melawan diskriminasi terhadap kelompok LGBTQ dalam bentuk apapun.

Kehebohan lain juga muncul di Prancis, beberapa warga negara Indonesia juga ikut merayakan Pride Month di Paris. Dubes RI untuk Perancis Arrmanatha Nasir bahkan harus merespon hal tersebut dengan mengatakan bahwa Indonesia tidak mengirim delegasi untuk acara tersebut, mereka ikut dengan menggunakan dana pribadi.

Adalah hak dari Dena Rachman untuk ikut merayakan acara apapun, tak terkecuali di acara Pride Month sebagai bentuk kebebasan berekspresinya. Begitu juga hak bagi Dena Rachman untuk mengibarkan bendera Merah Putih dalam acara tersebut karena dia juga adalah warga negara Indonesia. Tak ada tindakan kriminal atau pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Dena Rachman di New York, atau warga Indonesia lainnya di Prancis, sehingga tak perlu kiranya publik menghakimi apa yang dilakukan setiap individu untuk menunjukan ekspresinya.

 

 

Penulis : Cut Shofie Adian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s