Blog

Aku Transpuan, Aku Sama Sepertimu, Sama-Sama Manusia

Namaku Weni, seorang transpuan yang lahir di daerah dengan aturan ketat tentang agama Islam, dan penduduknya yang sangat magis serta taat akan ajaran agama. Aku adalah anak kedua dari empat bersaudara. Kami terlahir dalam keluarga yang sederhana.

Aku pernah berkuliah di salah satu perguran tinggi di daerahku dan mengambil jurusan gizi. Aku sempat menekuni perkuliahan selama empat semester atau kurang lebih selama dua tahun hingga akhirnya aku memutuskan untuk berhenti kuliah karena alasan finansial, sementara di waktu yang sama kedua orang tuaku memutuskan untuk berpisah. Aku sangat terpukul mengalami keadaan seperti itu. Setelah berhenti kuliah, aku menjadi seorang pengangguran yang hanya menggantungkan hidup dari keluarga.

Sebagai lelaki aku memiliki sifat dan ekspresi yang berbeda, aku merasa diriku lebih feminin. Kondisi itu membuat diriku kerap mendapatkan celaan dari keluarga karena aku dianggap laki-laki yang memiliki sifat seperti perempuan dan tidak bisa bekerja layaknya seorang lelaki pada umumnya. Aku mendapatkan perundungan dari keluarga dan saudaraku karena aku dipandang seperti perempuan. Bahkan ada yang mengatakan kalau aku seperti parasit yang hanya bisa menggantungkan hidup kepada orang tua dan tidak bisa menghasilkan uang sendiri.

Sekitar tahun 2014 aku merantau ke ibu kota provinsi bersama ibuku untuk menjauh dari keluarga besar supaya menghindari pertikaian yang terjadi setiap hari antara aku dan keluargaku. Aku bersama ibuku tinggal di sebuah kamar berdua. Kami  bekerja sebagai tukang cuci pakaian untuk bisa bertahan hidup.  Kami makan seadaanya. Pekerjaan itu terus aku lakukan selama beberapa bulan hingga kemudian ada salah satu temanku dari kampung yang mengajakku berkerja di salon tempat usaha miliknya. Ketika itu aku tidak langsung menerima tawaran tersebut, namun kemudian aku mendapatkan nasihat dari ibuku untuk menerima pekerjaan itu.

Pada awal Januari 2015, aku memutuskan untuk berkerja di salon tersebut. Aku mengenal teman-teman yang menghayati diri mereka sama seperti diriku sebagai transgender. Akan tetapi, ekpresi mereka yang berbeda dan sudah sangat feminin. Saat itu aku tidak mengenali siapa diriku sebenarnya dan aku mengubah ekpresiku dari maskulin ke feminin. Aku mulai menjalani kehidupan sebagai seorang transpuan atau waria.

Setelah memutuskan untuk menjadi transpuan, mulai dari sini aku merasakan penderitaan. Aku mulai mendapatkan perlakuan buruk dari tetangga sekitar, aparat keamanan, dan masyarakat secara luas di daerahku. Aku mendapatkan perundungan dari orang-orang terdekatku karena aku menjadi seorang transpuan. Mereka mengolok-olokku.

“Bagus jadi laki-laki malah mengubah diri jadi perempuan.”

Aku hanya diam dan tidak merespon dengan kata-kata apa pun karena sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa tentang diriku, dan apa yang aku rasakan. Aku bahkan pernah dilempari batu saat aku berjalan keluar membeli makan malam oleh orang yang tidak aku kenal. Saat itu aku hanya diam dan tidak bisa berbuat apa pun.

”Bencong! Anjing yang dilaknat sama Tuhan! Dan pembuat bencana!” 

Banyak kecaman dari aparat Syariah selalu kuterima karena ekspresiku. Aku selalu dijadikan sasaran razia yang mereka lakukan. Mereka hanya merazia kami para waria karena ekpresi kami feminin serta dianggap seperti perempuan yang menyalahi kodrat dan tidak sesuai syariat. Bahkan ada temanku yang terjaring razia lalu disiksa dan diperlakukan seperti seekor binatang. Mereka ditendang menggunakan sepatu, ditelanjangi, dan dibotaki secara paksa.

Aku bertanya dalam hati, “apakah seperti ini cara manusia memperlakukan manusia lain hanya karena dia berbeda secara ekpresi dan orientasi seksual dengan yang lain?”

Pada pertengahan Agustus 2018, aku bersama empat orang temanku berkunjung ke salah satu acara pekan kebudayaan daerah. Ketika kami berada di tempat parkir acara tersebut, kami diteriaki oleh salah seorang pengunjung lainnya dengan berkata dengan sebutan bencong. Salah seorang dari temanku tidak terima dan menghampiri pengunjung tersebut untuk meminta klarifikasi atas ucapan yang dilontarkan kepada kami. Saat temanku belum menerima, temanku langsung ditampar oleh pengunjung tersebut. Seketika kami membela dan mencoba meleraikan perkelahian tersebut.

 

Akan tetapi, kejadian makin parah saat pengunjung tersebut meneriaki kami dengan kata maling dan pengunjung lainnya yang datang ke acara tersebut langsung memukuli teman kami secara serentak dan tiba-tiba. Kami tidak dapat menahan pukulan masa tersebut karena terlalu ramai. Tanpa sadar, aku terkena pukulan tepat dibibirku hingga semua area mulutku berdarah. Kami dipukul layaknya hewan yang berbahaya dan kami coba melarikan diri dari kerumunan masa tersebut. Aku bersama satu orang temanku berhasil lari, namun temanku yang lainnya terperangkap dan dibawa ke kantor polisi.

Kemudian kami yang behasil lari mendapatkan panggilan dari kantor polisi untuk klarifikasi masalah. Kami juga mendapatkan perlakuan buruk dari salah satu polisi di kantor polisi tersebut dengan mengatakan darah yang berlumuran di mulut saya adalah betadine atau obat merah. Saat aku diintrogasi oleh polisi, mereka juga kembali menyalahkanku karena aku seorang waria yang tidak mematuhi peraturan daerah yang syariat.

“Ini daerah yang syariat! Kamu laki-laki ngapain harus jadi perempuan? Kenapa tidak berpakain sesuai kodrat aja?” teriak polisi pada kami.

Aku hanya diam ketakutan karena aku tahu posisiku saat itu tidak setara dengan polisi. Saat kami melakukan pembelaan terhadap diri kami, seorang polisi yang mengenal pelaku berkata, “jangan banyak ngomong! Kau jangan sampe kepala kau kupijak! Udah salah bukannya mengaku aja!”

Akhir dari masalah ini adalah kami memutuskan untuk berdamai dengan pelaku karena kami takut masalah ini akan semakin panjang hingga berdampak buruk bagi kami dan komunitas kami.

Aku kembali bertanya dalam hati. “Dimana letak salahnya menjadi seorang waria? Bukankah itu pilihan hidup seseorang? Bukankah seseorang berhak mengelola hidupnya sendiri sesuai dengan apa yang dia hayati dan dia inginkan? Apa salahku dengan ekpresiku? Apa salahku dengan orientasiku? Aku juga bernafas seperti kalian. Aku juga makan seperti kalian. Aku juga menjadi tulang punggung keluarga sama seperti kalian. Yang aku mau hanya satu! Rangkul aku! Dan perlakukan aku sama seperti yang lain! Karena aku juga manusia sama seperti kalian!”

 

Penulis : Cut Shofie Adian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s