Blog

Mereka Memanggilku Pendosa

Sudah 43 tahun aku tinggal di sini, di Kampung Domani, Kabupaten Kandedes, Kota Krakatau bersama sang istriku, Elishabet. Walaupun aku seorang transgender, pernihakan kami tetap terjalin baik selama 20 tahun.  Aku Tomi Susilo, pria paruh baya dengan keseharian pergi berkemeja, selalu membawa kebaya di dalam tas kulit berwarna merah marun.

Menjajakan diri adalah mata pencaharianku bersama Siska, Sera dan Meta teman temanku. Keseharian ku di pangkalan juga bukan hal yang menyenangkan, terkadang aku diteriakin bencong oleh bocah bocah pinggiran, dipalak preman, dan di suruh pulang oleh beberapa warga karena dianggap sebagai aib kampung. Kadang juga aku di tangkap ditangkap oleh petugas kepolisian. Mereka mencemoohku dan memaksaku untuk menghapus lukisan feminin di wajahku agar mereka membebaskanku. Terkadang penghasilanku tak seberapa banyak, namun Elishabet senantiasa duduk di kursi rotan menungguku pulang serta membantuku untuk menghapus bekas lisptik dan bedak kelly di wajahku. Raut wajah Elishabet membuatku kagum dan bersemangat walau hati ini tidak memiliki rasa sayang yang sebaliknya dia berikan. Bahkan cemooh tetangga akan ekspresi genderku yang dianggap aneh, tidak membuatnya berpaling dan meninggalkanku.

Aktivitas keseharianku selain menjajakan diri adalah menjadi pemahat kayu. Semua aktivitas dan ekspresiku kulakukan dengan sepenuh hati tanpa ada rasa tidak nyaman sama sekali. Kiacauan cemooh tetaanggaku yang membuat diriku tak nyaman. Beberapa dari mereka mencelaku dengan panggilan “banci hitam“, “Ibu Tomi dan Bapak Elishabet“, dan juga “Pendosa“. Sebagian di antara mereka ada juga yang tidak mau tahu urusanku, namun tetap memandangku dengan sinis dan aneh. Ada juga beberapa di antara mereka yang datang dengan senyuman ramah, duduk dan bercerita denganku, sembari memberikan nasihat nasihat lantunan agama.

Tak heran lagi dengan Pak yusuf, seorang tokoh agama terkemuka di kampungku yang selalu mengantarkan sejadah dan menasehatiku agar kembali ke jalan yang lebih baik. Belum lagi keluargaku yang tidak pernah mau datang berkunjung ke rumahku. Mereka menganggap aku keturunan pendosa dan membuat malu keluarga.

 

Ubah dulu pakaianmu, dan potong rambut panjangmu. Jadilah lelaki yang seutuhnya dan bijaksana, maka kami akan datang mengunjungimu. Ibu menyayangimu,” begitu ucap ibuku setiap aku mengundang ya untuk datang berkunjung. Yang menjadi pertanyaan besar adalah, apa yang salah dengan ekspresiku? Apakah kefemininanku membuat orang tidak nyaman? Bagaimana bisa aku harus mengubah hal yang tidak bisa kuterapkan dalam hidup dan keseharian? Bahkan untuk menerima rasa kasih sayangpun aku harus mengubah penampilan terlebih dulu. Bukankah itu adalah hak pribadi, hak personal? Jangan bedakan aku dengan yang lain hanya karena ekspresiku. Kepribadianku sekarang ini menurutku benar, aku merasa nayaman dengan diriku sendiri, dan aku juga tak pernah mengganggu atau mempermasalahkan ekspresi orang-orang lain. Menurutku tidak ada yang salah denganku, aku tidak rusak dan tidak butuh perbaikan.

Dalam hatiku kerap berkata pada mereka, cobalah untuk mengubah pandangan sinis itu menjadi pandangan yang manis. Lakukan obrolan biasa denganku sebagaimana kalian melakukan obrolan santai dengan yang lainnya. Tidak ada yang berbeda dariku, kamu, kalian, dan kita semua. Sama sama berdiri di tanah yang sama, tidur dan bangun di jam yang hampir sama, dan memiliki kesibukan yang sama. Hanya yang membedakan adalah ekspresi genderku yang feminin. Sebab aku normal, sama seperti kalian pada umumnya.

Pendosa bukan panggilanku, aku adalah Tomi Susilo yang tetap menjadi warga kampung Domani yang sehat fisik dan tinggal bertetangga dengan kalian.

 

Penulis : Ecuardo Putra Ramadhan

Satu tanggapan untuk “Mereka Memanggilku Pendosa”

Tinggalkan Balasan ke Agus Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s