Blog, LGBT, News

Esensi Bekerja adalah Profesionalitas, Bukan Orientasi Seksual

TRIBUN-MEDAN.com-Bukan cerita baru kalau kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) kerap mendapat diskriminasi di dunia kerja. Perlakuan ini terjadi hampir di semua wilayah di Indonesia, termasuk di Medan. Diskriminasi terhadap kelompok  mulai akses terhadap pekerjaan, penerapan sistem kerja, pemecatan, penolakan akan kesempatan pelatihan dan promosi, serta akses terhadap perlindungan sosial. Hal itu dialami karena orientasi seksual mereka yang berbeda.

Diskriminasi ini dialami Bobby (bukan nama sebenarnya) saat akan mencoba melamar menjadi sales tinta di Inqilabi-Ink, tahun lalu. Bobby melamar setelah melihat iklan lowongan kerja yang tayang di situs OLX.co.id. Penghasilan sebesar Rp 1.200.000 hingga Rp 4.000.000 yang ditawarkan distributor tinta spidol tersebut membuatnya memiliki pemikiran untuk pindah dari sebuah pabrik mebel di kawasan Sunggal Deliserdang, tempatnya bekerja saat ini.

Namun, wajah sumringahnya seketika berubah kecewa ketika membaca persyaratan yang diminta perusahaan yang beralamat di Jl. Besar Tembung, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara tersebut. Dari sembilan persyaratan, Inqilabi-Ink meminta persyaratan “Tidak Terlibat LGBT” di urutan paling atas. Bobby yang mengaku sebagai transmen ini merasa yakin kalau dirinya pasti ditolak saat mengajukan lamaran. Penampilannya saat ini sudah cukup bagi perusahaan tersebut untuk menilai kalau dirinya memang seorang LGBT (transman).

Sekilas, Boby yang memang berjenis kelamin perempuan itu terlihat seperti laki-laki. Rambut pendek, mengenakan anting khas laki-laki di telinga kiri, intonasi suara yang agak berat dan perawakan (fisik) yang tergolong tegap untuk ukuran laki-laki. Boby mengaku kecewa ketika harus mengalami diskriminasi yang berulang-ulang dalam hal pekerjaan dikarenakan orientasi seksualnya yang seorang trans.  Boby mengaku kalau penampilannya yang terlihat tomboy ini membuatnya dibayar murah di pabrik tersebut.

Pimpinan Bobby di pabrik memang mencari buruh yang penampilannya tomboy. Karena terlihat seperti laki-laki, maka Bobby bisa ditempatkan di bagian yang biasanya diisi laki-laki, seperti di bagian mesin dan pemotongan. Bagian operator mesin dan memotong adalah bagian yang pekerjanya biasanya diisi laki-laki, mengingat beban kerja dan risiko kerja yang cukup besar. Tapi upah tetap dibayar sebesar upah perempuan.

Menurut Boby, di pabrik tempatnya bekerja terdiri dari lima bagian, dari mulai operator mesin, memotong, menyusun, mengebor dan membungkus (packing). Bagian operator mesin dan memotong adalah bagian yang pekerjanya biasanya diisi laki-laki, mengingat beban kerja dan risiko kerja yang cukup besar.

Selain Bobby, ada tiga temannya di pabrik yang memiliki orientasi seksual sebagai transman. Dua orang di bagian di pemotongan dan seorang lagi di operator mesin. Untuk upah per hari, kecuali hari Minggu, kalau laki-laki dibayar Rp 47 ribu dan perempuan dibayar Rp 40 ribu. Meskipun bekerja di bagian yang ditempati pekerja laki-laki, tapi karena Boby dan ketiga temannya yang transman, tetap dibayar Rp 40 ribu.

“Kami merasa perusahaan hanya memanfaatkan orientasi seksual kami saja. Akhirnya kami dibayar murah. Padahal risiko kerja tidak kecil. Di bagian pemotongan misalnya, salah potong saja, jari tangan bisa terpotong. Bukan itu saja. Di sini buruh juga tidak ditanggung BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan. Jadi kalau kami sakit, kita tahan sendiri. Kalau berobat, biaya berobat kami tanggung sendiri. Ada 500 pekerja di sini. Mayoritas tak ada fasilitas BPJS. Palingan karyawan yang sudah bekerja di atas 15 tahun yang dapat,” kata Bobby.

Transman kelahiran 1991 ini mengatakan, mereka pernah protes ke perusahaan terkait upah yang mereka terima dan fasilitas BPJS yang tidak ada. Tapi tak ada tanggapan dari perusahaan. Protes mereka sama sekali tak digubris. “Malah dibilang, kalau mau kerja, ya kerja. Kalau enggak mau ya udah keluar. Karena yang mau lamar besok banyak. Begitu kata pimpinannya. Ya sudahlah, kitapun malas protes lagi,” kata Bobby.

Di tempat kerjanya saat ini dan di tempat kerja sebelumnya, Bobby mengaku tidak mendapat ejekan dari teman-teman sekerjanya karena orientasi seksualnya. Bobby sudah beberapa kali berpindah kerja sebelum bekerja di tempatnya sekarang, antara lain sebagai waitress, sales di mal dan operator mesin di sebuah pabrik agar-agar di Kelambir Lima, Deliserdang. Namun, di pabrik mebellah Bobby cukup betah, sampai tiga tahun.

“Betah itu sebenarnya karena terpaksa. Daripada tidak bekerja, terpaksa saya jalani meskipun upah kami yang transmen ini dibayar murah dan tak sesuai dengan beban kerja,” katanya.

Bobby dan teman-temannya yang transmen pernah berpikir untuk pindah kerja dan melamar di pabrik yang berdekatan dengan pabrik mereka saat ini. Tapi lamaran mereka ditolak karena pabrik tersebut tidak menerima transman, dan hanya menerima pekerja dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Penolakan tersebut didasarkan pada penampilan mereka yang tomboy.

“Alasan pimpinannya, mereka takut kami berantem (berkelahi). Padahal kita kan niatnya mau bekerja. Masa hanya karena melihat kami tomboy sudah disebut transmen. Padahal belum tentu tomboy itu transman. Ada perempuan tomboy yang memang tidak transman. Tapi memang penampilannya yang tomboy. Kalau anggapannya sudah seperti ini, maka pelamar perempuan yang tomboy tapi bukan transman tetap akan ditolak juga karena penampilannya itu. Padahal belum tentu kinerjanya jelek,” ujarnya.

Bobby juga harus menelan kecewa ketika lowongan sebagai sales tinta spidol yang ingin dilamarnya buyar karena mensyaratkan pelamarnya tidak terlibat LGBT. “Penampilan saya memang sudah tomboy begini. Saya yakin, saat saya mengajukan lamaran dengan penampilan seperti ini, saya pasti ditolak,” katanya.

Hal inipun dibenarkan Erwin, selaku Staf Inqilabi-Ink. Erwin mengatakan, persyaratan tidak terlibat LGBT awalnya tidak dicantumkan dalam persyaratan lamaran. Tapi beberapa hari setelah diiklankan, ada dua perempuan berpenampilan tomboy datang mengajukan lamaran. “Kedua-duanya perempuan, tapi kayak laki-laki. Dan saya tahu mereka ini pacaran,” kata Erwin.

Menurut Erwin, aturan dalam agama yang melarang keberadaanLGBT menjadi alasan bagi mereka untuk menolak siapapun yang terlibat dalam LGBT untuk bergabung dalam perusahaan mereka. “Itu alasan utama kami. Akhirnya, setelah kedatangan dua pelamar perempuan itu, kami ganti kembali iklannya dengan mencantumkan syarat “Tidak Terlibat LGBT” ,” kata Erwin.

Namun, kisah kelompok LGBT di dunia kerja tak selamanya  prihatin seperti yang dialami Bobby. Ada juga yang bekerja dengan cukup nyaman. Pengalaman ini diungkapkan Adinda Didi Rusdianto.

Transwoman kelahiran 1984 ini bercerita, setelah lulus kuliah program Diploma Komputerisasi Akuntansi dari sebuah PTS di kawasan Jamin Ginting Medan tahun 2005, dirinya diterima bekerja sebagai layouter dan desain grafis di sebuah perusahaan penerbitan di Medan.

Selama kurun waktu empat tahun hingga 2009, Didi berpindah-pindah bekerja di lima perusahaan penerbitan. Perusahaan penerbitan kelima yang dimasuki Didi adalah perusahaan penerbitan nasional dan memiliki kantor perwakilan di Medan. Hingga saat ini, Didi masih bekerja di perusahaan tersebut. Selanjutnya tahun 2007, Didi diterima bekerja sebagai desain grafis di sebuah perusahaan ritel di Medan. Jadilah Didi mengambil dua pekerjaan sekaligus dengan posisi desain grafis dan layouter. Pagi sampai sore di perusahaan ritel dan sore hingga malam di perusahaan penerbitan.

Saat pertama sekali bekerja, penampilan Didi masih terlihat maskulin. Namun teman-teman kerjanya sudah mengetahui orientasi seksualnya sedari awal bekerja. Didipun merasa tak harus mengakui (coming out) kalau dirinya seorang transwoman. Didi memutuskan untuk merubah secara perlahan penampilannya layaknya seorang perempuan sejak tahun 2012. Mulai dari memanjangkan rambut seperti rambut Rihanna dan mengenakan pakaian semifeminim ke kantor (kombinasi kemeja lengan panjang dan celana panjang). Didi juga memakai pemerah bibir, eye shadow, eye liner dan perawatan wanita lainnya. “Saya memang sedang menuju ke arah itu (female) dan berusaha mencapainya. Perubahan ini saya lakukan, agar orang-orang disekitar mulai dari keluarga, saudara dan rekan kerja tahu orientasi seksual saya dan tahu kalau saya berada di tahap perubahan menuju ke sana (female). Intinya saya tidak mau membohongi diri sendiri dan orang lain,” kata Didi.

Meskipun secara perlahan sudah merubah penampilan seperti perempuan dan perusahaan tahu kalau dirinya transwoman, Didi tidak mendapatkan diskriminasi dari perusahaan, misalnya diminta mundur atau kembali keadaan awal yakni sebagai laki-laki. Yang ada sebagian teman-teman kerjanya menyindir dirinya dengan pernyataan-pernyataan verbal seperti: “Laki-laki kok kecewek-cewekan”, “Kamu kok makin hancur”. Ada juga teman kerja laki-laki berbicara ke temannya yang laki-laki bertujuan menyindir  dengan kalimat berikut: “Kau tobat kenapa sih” atau “Kusodok burit (anus) kau nanti”.

“Pernyataan-pernyataan verbal seperti itulah yang kudengar di kantor. Aku hanya bilang ke mereka, ini hakku. Inilah aku dan aku sudah berdamai dengan  hatiku saya. Terserah kalian menganggap saya seperti apa. Yang penting, aku di sini bekerja untuk hidup, mencari nafkah dan untuk keluarga. Aku punya hak yang sama dengan kalian. Aku bilang seperti itu,” kata Didi.

Didi menegaskan, karena sindiran-sindiran yang ia dengar bukan dari pimpinannya, maka dirinya tidak terlalu menanggapi. Menurutnya, pimpinannya baik di perusahaan retail maupun perusahaan penerbitan bisa menerima keadaannya sebagai seorang transwomen.

“Bagi mereka, kinerja saya yang mereka lihat, bukan penampilan saya. Hal tersebut yang cukup menguatkan saya. Bukan perkara mudah bisa bertahan sejak tahun 2005 hingga saat ini dengan kondisi seperti ini. Karena itulah, semua sindiran mereka (teman kerja), tak satupun yang  saya tanggapi. Saya memilih diam dan memilih untuk menjauhi masalah,” kata Didi.

Kasus pemberitaan LGBT yang heboh-hebohnya Februari lalu, juga sempat membuat Didi menjadi bahan bully di kantor perusahaan ritel. Sebuah wallpaper bertuliskan “Menolak KerasLGBT, Lesbi, Gay, Bencong, Transgender”, Merusak Generasi Muda Bangsa” dengan dominasi warna merah terpampang di monitor PC kantor.

“Aku tahu siapa yang membuat wallpaper tersebut. Bagiku wallpaper itu sudah termasuk ujaran kebencian dan bertujuan memecah belah. Tapi itu tadi, aku anggap biasa-biasa saja. Aku merasa nyaman dengan orientasi seksual seperti ini dan bersyukur bisa bekerja di dua perusahaan yang bisa menerima keberadaan ini,” katanya.

pernyataan_verbal_20170715_174902
Wallpaper bertuliskan “Menolak Keras LGBT, Lesbi, Gay, Bencong, Transgender” yang ditujukan kepada pekerja LGBT di sebuah perusahaan di Medan (Tribun News).

Kenyamanan yang sama juga dirasakan Ame. Transman kelahiran tahun 1988 ini sekarang bekerja sebagai Financial Manager di sebuah perusahaan sekuritas di Medan. Ame menceritakan, kenyamanan tersebut ditunjukkan dari penerimaan teman-temannya di kantor hingga ke pimpinannya. Sejak awal bekerja, pimpinan Ame tidak pernah mempermasalahkan orientasi seksualnya. “Dari awal memperkenalkan diri, aku nyamannya maskulin. Aku kerja dengan jas dan dasi atau dengan ekspresi yang aku mau. Aku juga memperkenalkan pasangan perempuan saya dan kuajak bekerja di situ,” kata Ame.

Ame menegaskan, pimpinannya tidak pernah mempersoalkan orientasi seksualnya. Sebaliknya yang dipersoalkan adalah profesionalitasnya dalam bekerja. Ame menceritakan, dirinya pernah mengundurkan diri pada September 2014, atau setelah tiga tahun bekerja. Jujur, kata Ame, perusahaan sangat kehilangan karena selama bekerja dirinya tidak mempunyai rekam jejak pekerjaan yang jelek. “Pengunduran diriku sempat di hold (tahan) oleh perusahaan. Aku diminta untuk tidak mundur. Tapi karena ada hal yang harus aku kerjakan, aku harus mundur sebentar. Tapi bulan Maret lalu aku bergabung kembali di perusahaan yang sama,” katanya.

Mahasiswa FE Universitas Panca Budi ini mengaku, dirinya mengundurkan diri justru bukan pada masa down grade (jelek kinerja atau tidak mencapai target berapa lama). Kalaupun tak tercapai target perusahaan sebesar 100 persen, target minimal 50 persen selalu dia capai. Ame pun beberapa kali mendapat reward atas prestasinya ini. “Sampai aku keluar pun, hubunganku dengan manajer tetap hangat dan dekat. Komunikasi tetap berlangsung. Kami sering BBM an dan bercerita soal kegiatan kami masing-masing,” katanya.

Senada dengan Didi, Ame tak harus mengaku kalau dirinya transman. Penampilannya saat ini sudah cukup untuk memberitahu siapapun, kalau dirinya adalah seorang transman. “Aku memang orang yang beruntung yang bisa bekerja di wilayah formal dengan ekspresi yang kuinginkan tanpa tekanan dari perusahaan. Aku tak pernah mendapat bully atau ejekan di kantor. Semuanya nyaman bergaul dan tidak lagi mempermasalahkan orientasi seksual yang kupunya,” ujarnya.

Keberuntungan yang sama juga dialami Laina (bukan nama sebenarnya), seorang shemale yang bekerja sebagai instruktur di sebuah kursus Bahasa Inggris terkemuka di Medan. Alumni Sastra Inggris sebuah PTN di Medan ini mengaku ada hal yang membuatnya nyaman terkait orientasi seksualnya yakni pernyataan dari World Health Organization (WHO) yang menyebut bahwa LGBT bukalah penyakit. “Artinya kami sama dengan manusia lain yang normal. Saya lebih percaya ilmu pengetahuan yang secara ilmiah terbukti kebenarannya,” katanya.

Bekerja selama lima tahun di kursus Bahasa Inggris tersebut, shemale kelahiran 1987 ini mengatakan, dirinya tak harus mengakui (coming out) terkait orientasi seksualnya. Menurutnya teman-teman seprofesinya termasuk pimpinannya sebenarnya tahu tentang orientasi seksualnya meskipun dirinya tidak harus mengakuinya. Hampir semua rekan kerjanya tahu kalau malam minggu dirinya sesekali ke tempat hiburan dengan dandanan perempuan. Seringkali, teman-teman sekantornya juga menyebut Laina cantik. Namun, Laina menganggapnya hanya sebagai candaan.

“Hidup ini terlalu indah untuk dilewatkan. Saya nikmati apa yang bisa saya nikmati, buat apa menghabiskan waktu untuk membahas hal-hal yang tidak perlu seperti menyalahkan LGBT. Banyak hal yang lebih penting yang harus dibenahi di negara ini, terutama untuk mendapat kualitas hidup yang lebih baik,” jelasnya.

Secara pribadi, Laina mengaku tidak melihat diskrimasi di tempatnya bekerja. Kalau kantor tempatnya bekerja melakukan diskriminasi, barangkali dirinya sudah dikeluarkan. Pimpinannya, kata Laina menganggap orientasi seksual itu  sebagai urusan pribadi yang tak elok dicampurkan dengan urusan pekerjaan. “Saya bangga ada di perusahaan ini. Belum tentu perusahaan lain bisa menerima orang-orang seperti saya,” kata Laina.

Pimpinannya justru memprioritaskan Laina dibanding dengan pengajar lainnya yang sudah 20 tahun atau 10 tahun bekerja. Hal itu karena Laina dianggap lebih berkualitas dibidangnya ditambah dengan personal qualities yang dia punya seperti semangat kerja, kejujuran dan tanggungjawab moral. “Setiap orang harus menjadi yang terbaik untuk dirinya dan orang lain dalam hal kepribadian dan dalam segala hal yang mungkin. Tidak ada gunanya terus menyimpan kebencian dan emosi negatif, tetapi bebaskanlah semua hal negatif untuk kesehatan otak atau urat syaraf kita,” kata Laina.

Jika pada akhirnya ada perusahaan yang tidak mempermasalahkan orientasi seksual para pekerjanya, lalu alasan apah yang membuat perusahaan di Medan menerima pekerja LGBT tersebut?

Pertama kali melihat Didi, Dina (bukan nama sebenarnya), merasa biasa saja dan tidak ada yang aneh. Perempuan 28 tahun yang menjadi atasan Didi ini mengatakan, Didi bukanlah LGBTpertama yang menjadi partner kerjanya enam tahun terakhir. Saat ditempatkan di Pematangsiantar dan Lhokseumawe dirinya sudah berpartner bersama karyawan  dengan orientasi seksual gay. “Jadi bagi saya sudah biasa ya. Sama dengan karyawan-karyawan lain,” kata Dina kepada Tribun.

Dina menjelaskan, orientasi seksual karyawannya yang LGBT merupakan domain pribadi dan tidak ada kaitannya dengan kepentingan pekerjaan. Baginya, orientasi seksual karyawannya apapun itu, baik lesbi, gay, biseksual dan trans bukanlah sesuatu yang penting untuk diurusi. “Yang perlu saya urusi adalah pekerjaan mereka. Bagi saya, mereka bekerja dengan baik dan profesional sudah cukup. Esensi bekerja itu adalah profesionalitas. Ketika mereka bekerja dengan baik, saya apresiasi. Dan ketika sudah menyalahi prosedur yang ada, baru saya panggil,” kata Dina.

Dikatakan Dina, sebagai pimpinan di divisi marketing, maka dirinya membutuhkan orang-orang yang kreatif karena divisi marketing identik dengan orang-orang yang kreatif. Menurut Dina, orang kreatif itu tidak dibatasi dibatasi oleh gender ataupun orientasi seksual. “Mau dia laki-laki, perempuan dan LGBT sekalipun saya tidak memperdulikannya. Apa yang menjadi buah pikiran merekalah yang menjadi nilai bagi dia. Untuk Didi, mau dia laki-laki, perempuan atau apapun, maka bagi saya, output dari pekerjaannya yang penting. Memuaskankah kinerjanya, disiplinkah dia, atau bagus tidak etikanya. Itu yang saya nilai,” kata Dina.

Sepanjang berpartner dengan Didi, sebut Dina, Didi masih bisa mengikuti apa yang diminta dan disarankan oleh perusahaan. Nilai kreatif Didi, kadang-kadang out of the box, karena hasil kerjanya terkadang melebihi target yang diminta. Dari rentang 1 sampai 10, Dina menyebut memberikan nilai akhir 7 kepada Didi untuk gabungan beberapa aspek penilaian seperti kinerja, attitude, disiplin atau kerajinan. Jika Dina meminta pekerjaan khusus untuk mendesain bahan promo, nilai Didi berada di angka 8.  “Jadi menurut saya, kembali kinerja masing-masing karyawan, termasuk Didi dan kelompok LGBT lainnya. Sepanjang masih bisa memberikan kontribusi positif, dan anaknya kreatif, maka tidak masalah bagi kami untuk menerimanya bekerja di sini. Begitupun kalau dia salah, tetap kita tegur,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Risa (bukan nama sebenarnya). Relation Manager di perusahaan tempat Ame bekerja ini mengatakan, orientasi seksual karyawannya merupakan urusan pribadi yang tidak perlu disangkutpautkan dengan pekerjaan. Risa mengatakan, meskipun seorang LGBT, hal tersebut bukan jadi penghalang bagi mereka untuk berkarir di perusahaan yang dipimpinnya.

Kalau memang hasilnya positif, tak ada alasan bagi perusahaan untuk menolak. Pengalaman Risa, biasanya orang-orang LGBT adalah orang yang memiliki sifat yang supel, pintar membawa diri, sangat cepat masuk ke pergaulan dan apa adanya.

“Sifat ini sangat menguntungkan mereka dalam bekerja, mengingatkan karakter kerja kami ada berhubungan dengan pencarian dan pengelolaan nasabah. Sifat mereka ini juga sangat membantu mengelola emosional mereka dalam menghadapi tuntutan kerja kami yang stressfull dan underpressure. Sekilas, pekerjaan kami memang terlihat santai, tapi sebenarnya cukup membuat stress,” katanya.

Risa mengakui, selain Ame yang sudah bergabung di timnya setahun terakhir, dalam timnya juga bergabung seorang gay sejak tiga tahun terakhir. Secara umum, kata Risa, Ame dan karyawan yang gay tersebut bekerja sangat profesional. Keduanya mengetahui jam kerja, memahami tugas dan tanggungjawab dan cekatan dalam menjual produk-produk investasi yang ditawarkan perusahaan. Keduanya juga selalu mendapatkan nasabah dalam jangka waktu yang tidak lama.  Mereka juga professional dalam menjaga nasabah agar tetap percaya dengan perusahaan.

Soal prestasi, baik Ame maupun rekan karyawannya yang gay punya pencapaian yang baik. Selama bekerja di perusahaan tersebut, keduanya beberapa kali mendapat reward sebagai “ganjaran” atas target yang mereka capai. Biasanya reward ini diberikan kepada karyawan jika pencapaiannya melebihi 50 persen target yang dibebankan. “Melihat prestasi dan kinerja mereka, tentu tak ada alasan bagi kami untuk mengeluarkan mereka,” katanya. (Truly Okto Hasudungan Purba)

Sumber :Tribun News

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s