Kampanye

[Pernyataan Sikap]Peringatan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan

PERNYATAAN SIKAP

PERINGATAN HARI ANTI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN

“DENGAR KORBAN DAN DUKUNG PENGESAHAN RANCANGAN UNDANG UNDANG KEKERASAN SEKSUAL”

MEDAN, 27 NOVEMBER 2016

 

Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan ( 16 Days of Activism Against Gender Violence) merupakan kampanye international untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. Kampanye ini pertama kali digagas oleh Women’s  Global Leadership Institute tahun 1991 yang disponsori oleh Center for Women’s Global Leadership. Setiap tahunnya peringatan ini diawali pada tanggal 25 November yang merupakan Hari International Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan hingga 10 Desember peringatan Hari  Internasional Hak Asasi Manusia. Peringatan setiap tahunnya tidak selalu menjamin bahwa kekerasan terhadap perempuan tidak lagi terjadi. Bahkan kekerasan terhadap perempuan setiap tahunnya semakin meningkat dan perluasan bentuk-bentuk kekerasan semakin meluas. Seperti kekerasan kepada perempuan agama kepercayaan lokal dan kekerasan terhadap perempuan berbasis SOGIE[1].

img-20161128-wa0027

Catatan tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan tahun 2016[2] menemukan jumlah Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP) pada tahun 2015 sebesar 321.752 Kasus. Dari kasus tersebut sebesar 305.535 kasus bersumber pada data kasus/perkara yang ditangani oleh pengalidan agama dan sebanyak 16.217 kasus dari layanan mitra komnas perempuan. Dari jumlah kasus kekerasan ini, kekerasan terbesar berasal dari kekerasan diranah personal ataupun domestik yaitu sebesar 60% atau 11.207 kasus. Dari 11.207 kasus sebanyak 24 % atau 2.734 kasus adalah kekerasan terhadap istri dan sebanyak 8% atau 930 kasus kekerasan terhadap anak perempuan.  Kekerasan pada ranah domestik diatas, menempatkan  kekerasan fisik pada urutan pertama yaitu sebesar 38%, pada urutan kedua adalah kekerasan seksual sebesar30%, psikis 23% dan kekerasan ekonomi 9%.

img-20161128-wa0025Foto : Aksi solidaritas dengan tanda tangan

Pada CATAHU 2014 kekerasan seksual berada pada posisi ketiga, tahun ini naik menjadi peringkat kedua. Dimana, sebanyak 72% adalah perkosaan, pencabulan sebesar 18% dan pelecehan seksual sebesar 5%. Kekerasan terhadap perempuan penghayat agama leluhur juga terjadi. Hasil pemantauan  Komnas Perempuan[3] didasarkan pada pengungkapan 115 kasus dari 87 peristiwa kekerasan dan diskriminasi yang dialami oleh 57 perempuan penghayat kepercayaan, penganut agama leluhur dan pelaksana ritual adat dari 11 komunitas yang tersebar di 9 provinsi.Dari 115 kasus tersebut, 50 diantaranya adalah kasus kekerasan dan 65 lainnya kasus diskriminasi. Setidaknya ada enam jenis kasus yang dapat dikategorikan ke dalam 3 bentuk kekerasan, yaitu (a) kekerasan psikis dalam 14 kasus stigmatisasi/pelabelan dan2 4 kasus intimidasi, (b) kekerasan seksual dalam 7 kasus pemaksaan busana dan 3 kasus pelecehan seksual, serta (c) kekerasan fisik dalam 3 kasus penganiayaan dan 2 kasus pembunuhan.

Kekerasan terhadap perempuan karena perbedaan orientasi seksual, identitas gender dan ekspresi (SOGIE) juga kerap terjadi. Kekerasan terhadap kelompok Lesbian, Biseksual Perempuan dan Trans Laki-laki (LBT) tidak luput dari perhatian seperti yang ditunjukan oleh CATAHU Komnas Perempuan 2014 sebanyak 21 kasus dialami oleh kelompok :LBT di Indonesia. Penelitian Arus Pelangi 2013[4] sebanyak 89,4% Lesbian mengalami kekerasan. Pemantauan Cangkang Queer 2011-2015[5]  di Sumatera Utara menunjukan dari 234 kasus kekerasan sebanyak 27 kasus dialami oleh kelompok lesbian dan 98 kasus dialami oleh trans laki-laki dan trans perempuan.

Melihat data-data diatas terlihat betapa tingginya angka kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Oleh karena itu, melalui peringatan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan kami menuntut beberapa hal :

  1. Sudah seharusnya seluruh lapisan masyarakat turun tangan dalam melawan kekerasan terhadap perempuan sebagai bentuk penghargaan atas kemanusiaan.
  2. Kekerasan dalam bentuk apapun terhadap perempuan termasuk kekerasan berbasis identitas suku, agama, kepercayaan, ras, orientasi seksual, identitas gender harus dilawan.
  3. Mendorong Negara melalui pemerintah untuk segera mensahkan Rancangan Undang Undang Anti Kekerasan Seksual. Sebagai bentuk perlindungan hukum kepada perempuan terbebas dari kekerasan seksual.
  4. Kepada semua perempuan penyintas kekerasan seksual rasa hormat dan cinta kami bagi kalian atas perjuangan yang kalian lakukan.
  5. Kepada seluruh masyarakat, media, pemerintah dan siapapun untuk selalu mendengar perempuan korban kekerasan sebagai bentuk empati dari rasa penghargaan terhadap kemanusiaan.

– LBH APIK, CANGKANG QUEER, ALIANSI SUMUT BERSATU, FORUM PENYEDIA LAYANAN-

[1] Sexual Orientation, Gender Idenitty and Expession
[2] http://www.komnasperempuan.go.id/lembar-fakta-catatan-tahunan-catahu-2016-7-maret-2016/
[3] Laporan Hasil PemantauanTentang Diskriminasi dan Kekerasan terhadap Perempuan dalam Konteks Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, 2016 bagi Kelompok Penghayat Kepercayaan/Penganut Agama Leluhur,2016
[4] Menguak Stigma, Kekerasan dan Diskriminasi pada LGBT di Indonesia, Arus Pelangi 2013
[5] Laporan Situasi LGBT di Sumatera Utara, Cangkang Queer, 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s