News

Kelompok Aktivis Kampanyekan Dukungan Pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

 

img-20161128-wa0029
 Spanduk dukungan masyarakat atas kampanye pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual di lapangan Merdeka, Medan, Minggu (27/11/2016).Sumber Foto : (UtamaNews.com)

MEDAN (utamanews.com) – Sekitar 200an masyarakat yang beraktivitas di lapangan Merdeka Medan membubuhkan tanda tangan di atas selembar spanduk untuk mendukung disahkannya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, Minggu (27/11/2016).

 
Kegiatan digelar oleh sejumlah NGO, antara lain Aliansi Sumut Bersatu (ASB), Cangkang Queer, LBH APIK, dan Forum Pengadalayanan Komnas Perempuan.
 
Dika dari Cangkang Queer, kepada media ini menjelaskan bahwa aksi damai dengan tema “Dengar Korban dan Dukung Pengesahan Rancangan Undang Undang Kekerasan Seksual” ini dilakukan dengan mengajak setiap orang ikut serta untuk memberikan tandatangan sebagai bentuk dukungan kampanye melawan kekerasan terhadap perempuan. 
 
“Selain mengumpulkan tandatangan, peserta aksi juga membagikan brosur, stiker dan pin kepada setiap orang yang mengitari lokasi aksi,” tutur Dika setelah kegiatan.
 
Kata Dika, keterlibatan Cangkang Queer sebagai organisasi yang fokus pada pemenuhan hak2 kelompok LGBT di Sumatera Utara dalam aksi damai ini, adalah dengan mengkampanyekan lawan kekerasan, stigma dan diskriminasi terhadap perempuan yang memiliki Orientasi Seksual, Identitas Gender dan Ekspresi (SOGIE) yang berbeda. 
 
“Karena Fakta penelitian Arus Pelangi pada 2013 menunjukan sebanyak 89,4% lesbian di Indonesia mengalami kekerasan. Di Sumatera Utara menunjukan dari 234 kasus keekerasan terhadap LGBT sebanyak 27 kasus dialami oleh Kelompok lesbian dan 98 kasus dialami oleh Transgender laki-laki dan transgender perempuan,” ungkapnya.
 
Menurut Dika, setidaknya ada enam jenis kasus yang dapat dikategorikan ke dalam 3 bentuk kekerasan, yaitu (a) kekerasan psikis dalam 14 kasus stigmatisasi/pelabelan dan 24 kasus intimidasi, (b) kekerasan seksual dalam 7 kasus pemaksaan busana dan 3 kasus pelecehan seksual, serta (c) kekerasan fisik dalam 3 kasus penganiayaan dan 2 kasus pembunuhan. 
 
“Sudah seharusnya seluruh lapisan masyarakat turun tangan dalam melawan kekerasan terhadap perempuan sebagai bentuk penghargaan atas kemanusiaan,” ajak Dika.
 
“Kekerasan dalam bentuk apapun terhadap perempuan termasuk kekerasan berbasis identitas suku, agama, kepercayaan, ras, orientasi seksual, identitas gender harus dilawan,” pungkasnya.
 
Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 Days of Activism Against Gender Violence) merupakan kampanye international untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. Kampanye ini pertama kali digagas oleh Women’s  Global Leadership Institute tahun 1991 yang disponsori oleh Center for Women’s Global Leadership. Setiap tahunnya peringatan ini diawali pada tanggal 25 November yang merupakan Hari International Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan hingga 10 Desember peringatan Hari  Internasional Hak Asasi Manusia. (Red)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s