Blog

GERAKAN HOMOSEKSUAL DALAM KERANGKA TEORITIS GERAKAN SOSIAL

Oleh : Edison FS Butar-butar

Mungkin, masih segar diingatan kita, baru-baru ini media nasional dan internasional memberitakan bahwa Negara Urugay telah mensahkan undang-undang pernikahan sejenis (homoseksual). Uruguay bukanlah Negara pertama yang melakukan hal tersebut. Sebelumnya ada 11 negara yang sudah melegalkan pernikahan sejenis dan undang-undang adopsi anak untuk pasangan sejenis. Hal serupa juga terjadi di Inggris, februari lalu , rancangan undang-undang telah masuk ketahap pembacaan kedua yang akan melegalkan pernikahan sejenis di Negara itu dan Wales. Semua hal yang terjadi diatas, tidaklah serta merta terjadi begitu saja, tetapi peran serta gerakan homoseskual yang ada di negara-negara itulah yang paling berkontribusi dalam hal ini.

Gerakan homoseksual merupakan salah satu bagian dari gerakan sosial. Untuk itu dalam tulisan ini saya akan memaparkan gerakan homoseksual dengan menggunakan kerangka teoritis gerakan sosial.

Gerakan homoseksual sebagai gerakan sosial

Gerakan sosial merupakan fenomena partisipasi sosial (masyarakat) dalam hubungannya dengan entitas-entitas eksternal. Istilah ini memiliki beberapa defenisi, namun secara umum dapat dilihat sebagai instrumen hubungan kekuasan antara masyarakat dan entitas yang lebih berkuasa (powerfull).Masyarakat cenderung memiliki kekuatan yang relatif lemah (powerless) dibandingkan entitas-entitas yang dominant, seperti Negara, swasta (bisnis). Dengan kata lain, gerakan sosial merupakan ‘pengeras suara masyarakat sehingga kepentingan dan keinginnan mereka terdengar[1]

Gerakan sosial lahir dari situasi yang dihadapi masyarakat karena adanya ketidak adilan dan sikap sewenang-wenang terhadap rakyat,kelompok dan indvidu. Tujuan utama dari gerakan sosial adalah perubahan[2]

Gerakan sosial merupakan gerakan yang dilakukan oleh sekelompok orang secara kolektif,kontinyu dan atau sistematis dengan tujuan untuk mendukung atau menentang keberlakuan tata kehidupan tertentu, dimana mereka memiliki kepentingan didalamnya, baik secara individu,kelompok,komunitas, atau level yang lebih luas lagi (Wahyudi,2005;6).

Kaum homoseksual merupakan kelompok yang rentan mendapatkan kekerasan,diskriminasi bahkan pembunuhan karena kelompok  ini selalu dianggap ‘menyimpang’. Maka, benarlah seperti yang dikatakan oleh Vivi Widyawati bahwa fakta kejahatan terhadap homoseksual dalam kita jumpai dengan mudahnya didunia ini. Karena pelarangan homoseksual menjadi salah satu isi dari undang-undang yang diberlakukan diberbagai Negara[3].

Melihat fenomena diatas, kelompok homoseksual yang semakin sadar akan hak-hak nya sebagai manusia,warga Negara bahkan masyarakat bergerak melakukan protes-protes. Tujuan utama dari protes itu adalah menghancurkan tatanan sosial, budaya, ekonomi, politik dan hukum yang mendiskriminasi mereka karena identitas seksualnya sebagai homoseksual.

Bruce J Colin (1992) memaparkan ciri-ciri gerakan sosial adalah sebagai berikut

  1. Gerakan kelompok
  2. Terorganisir (struktur, personalia, mekanisme kerja, jaringan, dukungan, modal dan alat
  3. Memiliki rencana, sasaran dan metode
  4. Memiliki ideologi
  5. Merubah atau mempertahankan
  6. Memiliki usia yang relatif panjang

Gerakan homoseksual adalah sebuah gerakan yang sudah dimulai sejak tahun 1897 yang ditandai dengan berdirinya sebuah organisasi yang memperjuangkan hak-hak kaum homoseksual yang bernama Wissenschsftlich-humanitares Komite disingkat WhK. Gerakan ini dipelopori oleh Magnus Hirschfeld seorang dokter, psikiater dan seksolog : Max Sporh, seorang editor dan Eduard Oberg seorang pengacara.berbagai metode mereka lakukan yaitu dengan mengeluarkan petisi penghapusan pasal 175 pada tahun 1897, kampanye kepada pendeta-pendeta dan pemerintahan, kampanye pada masyarakat melalui media cetak dan pampflet, Koran[4]

Gerakan homoseksual tidak dapat dipisahkan dengan organisasi sipil atau khususnya disebutkan organisasi/komunitas homoseksual.Karena didalam organisasi ini kelompok homoseksual membentuk ‘keluarga’ yang baru, tempat bercerita dan mengadu bahkan sebagai wadah mempersiapkan strategi-strategi perjuangan. seperti yang dikatakan oleh Lofland dalam Agustina ( 2003;16) dalam gerakan sosial ada lima (5) realita publik yang terjadi, salah satunya adalah organisasi sipil yang berfungsi sebagai wadah perlindungan kebebasan warga negara dari  lembaga sentral.

Gerakan homoseksual sebagai gerakan sosial, tentunya mempunyai komponen-komponen dasar. Smelser (1962) mengungkapkan ada empat komponen aksi sosial (social action), yaitu :

  1. Tujuan-tujuan yang bersifat umum (generalized ends), yang memberikan arahan paling luas terhadap perilaku sosial dengan tujuan tertentu (purposive social behavior). Semua gerakan homoseksual mempunyai tujuan yang sama yaitu, merekontruksi tatanan sosial,budaya,politik,ekonomi dan hokum yang mendiskriminasi homoseksual untuk tercapainya pemenuhan hak-hak sebagai manusia, warnga negara dan masyarakat.
  2. Ketentuan-ketentuan regulatif yang mengatur upaya-upaya pencapaian tujuan tersebut. Didalam gerakan homoseksual regulatif ini bisa ditemukan didalam organisasi, misalnya : ada struktur organisasi yang jelas beserta pembagian tugas setiap individu yang rigid.
  3. Mobilisasi energi individual untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Individu-individu yang terlibat didalam gerakan homoseksual, hampir mempunyai motivasi yang sama yaitu kesadaran akan diskriminasi, kekerasan yang diterimanya membuat dia harus bergerak. Walaupun pada tahap faktualnya, ada motivasi-motivasi lain dan hal itu tidak terlalu penting untuk dibahas dalam tulisan ini.
  4. Fasilitas situasional yang tersedia yang digunakan sebagai sarana pergerakan. Homoseksual sebagai kelompok yang sudah dianggap ‘menyimpang’ dari tatanan sosial cultural harus mempunyai fasilitas yang kongrit untuk berjuang. Hal tersebut bisa berupa : Pengetahuan konsep dan teori seputar seksualitas, hukum,sejarah dll, pengetahuan pengorganisasian, pengetahuan pembuatan strategi perjuangan hingga pada hal yang lebih kecil lagi.

Setelah membahas komponen-komponen gerakan sosial, selanjutnya yang harus dipahami adalah tahapan-tahapan gerakan sosial. Farley (1992)  merumuskan tahapan gerakan sosial sebagai berikut :

  1. Tahap Organisasi : Pada tahapan ini hal yang dilakukan adalah mobilisasi individu, perekrutan peserta, mencari perhatian media massa, demonstrasi. Tujuannya adalah mencari koalisi dengan kelompok lain atau yang mempunyai tujuan yang serupa. Gerakan homoseksual jelas melewati tahapan ini, kita ambil saja contoh organisasi gerakan homoseksual pertama yang ada di Jerman tahun 1897, organisasi ini membuat petisi penolakan dan penghapusan pasal pelarangan homoseksual. Petisi itu mendapat dukungan dari 3000 orang dokter dan 750 profesor dan 1000 orang masyarakat sipil. Hal lain adalah dengan kampanye melalui media Koran, pampflet dll[5] . hingga sekarang gerakan homoseskual tetap melakukan tahapan ini, terlihat pada perayaan-perayaan hari internasional terkait homoseksual sering sekali mereka melakukan kampanye, aksi. Kegiatan lain juga terlihat melalui pendidikan, pelatihan sebagai proses ideologisasi dan perluasan gerakan.
  2. Tahap Institusional : Tahapan ini merupakan tahapan zona aman, dimana gerakan sosial tersebut sudah tidak dianggap lagi sebuah ‘keanehan’ tetapi sudah diterima pada pola politik, sosial, budaya masyarakat. Jika ditarik pada kasus gerakan homoseksual tahapan ini belum merata dilalui, karena pertimbanganya adalah keadan sosial,politik dan budaya dimana gerakan itu berdiri. Misalnya saja, di Negara Eropa dan Amerika gerakan homoseksual menjadi sebuah kelaziman bahkan beberapa Negara di benua ini bisa menerima tujuan-tujuan dari gerakan homoseksual yang akhirnya terintegrasi kedalam tatanan sosial, budaya, hukum masyarakat. Tetapi di Asia misalnya, memang gerakan homoseksual sudah menjamur dan diakui keberadaannya, tetapi masyarakat masih saja merasa itu sebuah gerakan yang tidak lazim sehingga tujuan-tujuan dari gerakan itupun belum bisa diterima oleh masyarakat.
  3. Tahap Surut : Tahapan ini terjadi ketika sebuah gerakan sosial mengalami mererosotan. Biasanya karena hilangnya seorang pemimpin, pertentangan internal, merosotnya dukungan atau mungkin gerakan sudah mencapai tujuan dan sasarannya. Dalam konteks gerakan homoseksual ini sering terjadi, pertumbuhan gerakan homoseksual bak jamur pada musim hujan, yang ketika musim kemarau beberapa diantaranya mati tetapi ada yang bertahan. Pertentangan internal bisa juga dimasukkan sebagai indicator kemerosotan gerakan homoseksual, mulai dari hal yang paling rasional misalnya perbedaan ideologi. Hingga kehal yang sangat irasional misalnya rebutan pacar, cemburu atau bahkan putus dengan pacar dalam sebuah gerakan. Tetapi untuk indkitor yang terakhir yaitu telah tercapainya sasaran dan tujuan gerakan, mungkin ini bisa diambil contoh gerakan homoseksual pada Negara yang sudah mengakui dan menerima homoseksual.

Keberadaan homoseksual juga diintervensi oleh sikap-sikap politik yang akhirnya mengeluarkan kebijakan-kebijakan pelarangan homoseksual itu sendiri, hal ini sepadan seperti kata Foucault[6]  dalam setiap masyarakat, tubuh senantiasa menjadi objek kuasa. Tubuh dimanipulasi ,dikoreksi, menjadi patuh, bertanggung jawab, menjadi terampil dan meningkat kekuatannya. Tubuh senantiasa menjadi objek kuasa, baik didalam anatomi metafisik,pun dalam arti teknik politis. Teknologi politis terhadap tubuh akhirnya sampai pada perhatian terhadap tubuh yang tadinya harus disiksa-sampai pada tubuh yang harus dilatih agar disiplin.

Kebijakan-kebijakan pelarangan homoseksual tersebut dilawan oleh gerakan homoseksual dengan meminta tanggung jawab negara atas hak-hak mereka baik sebagai manusia, warga negara dan masyarakat. Dengan itu, gerakan homoseksual bisa dikatakan gerakan kemanusiaan atau Hak Asasi Manusia (HAM) yang bisa dikategorikan sebagai gerakan sosial baru . Secara teoritik Sing membagi gerakan sosial menjadi tiga(3) yaitu gerakan sosial klasik, neo klasik dan baru (Wahyudi,2005 ;12)

Gerakan sosial klasik memusatkan perhatian pada perilaku kolektif seperti kerumunan, kerusuhan dan kelompok pemberontak dari pendekatan psikologis sosial terjadi dalam periode sebelum tahun 1950-an. Gerakan sosial neo-klasik berkaitan dengan studi terhadap gerakan sosial ‘tua’ seperti gerakan perjuangan kelas disekitar proses produksi. Biasanya dipelopori oleh kaum buruh. Paradigma berfikirnya adalah Marxist Theory . Sedangkan gerakan sosial baru muncul di Eropa dan Amerika sekitar tahun 1960 dan 1970, gerakan ini mengusung isu: Humanitas, budaya dan hal-hal no-materialistik. Tujuan dari gerakan sosial baru adalah menata kembali relasi Negara,masyarakat dan perekonomian dan untuk menciptakan ruang public yang didalamnya  terdapat wacana demokratis otonomi dan kekebasan individu.

Penutup

Studi gerakan sosial berkembang pesat pada periode tahun 1960-an, hal ini juga diikuti dengan beragam praktik-praktik gerakan sosial diseluruh dunia. Gerakan anti perang Vietnam di Amerika, gerakan pembaharuan agrarian, gerakan penjatuhan rezim dictator, gerakan buruh, gerakan anti pembangunan, gerakan perempuan ,gerakan perjuangan identitas, hak asasi manusia (Situmorang,2007;vi).

Ketika gerakan menjadi sebuah studi, maka dia secara pasti akan bersifat ilmiah. Artinya memiliki kerangka teori dan konsep dan metodologi pengkajian. Dengan demikian pula, gerakan homoseksual yang merupakan salah satu bentuk dari gerakan sosial dapat dikaji secara keilmuan, tujuannya tidak lain adalah melihat bagaimana kondisi, strategi,perliaku gerakan itu sendiri dalam mencapai sasaran dan tujuannya, yaitu merekontruksi tatanan sosial,budaya,hukum,politik dan ekonomi yang diskriminatif menjadi sikap toleran terhadap homoseksual. Bahkan mungkin lebih jauh lagi adalah mewujudkan kesetaraan manusia dalam bermasyarakat dan berenegara tanpa adalagi perbedaan atas dasar identitas seksual.

Referensi

Bruce, J Cohen, Sosiologi Suatu Pengantar,

Rineka Cipta,1992

Smeler,Nel J, Theory of Colective Behaviour, London: Routledge and Kegan Paul and

New York : The Free Press of Glence,1962

Agustina, Fitria, N.Kusuma., ed.,2003, PROTES,

Yogyakarta :  INSIST Press Printing

Situmorang, Abdul Wahib,Gerakan Sosial:Studi Kasus Beberapa Perlawanan,

            Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2007

Wahyudi, Dr, Formasi Dan Sturktur Gerakan Sosial Petani: Studi Kasus

            Reklaiming/Penjarahan Atas Tanah PTPN XII (Persero) Kalibakar Malang

            Selatan,

Malang: UMM Press, 2005

Foucault, Michel. Seperti yang dikutip oleh Arif Saifudin Yudistira, “Menarik Benang

            Merah Seks dan Politik”,Majalah Bhineka Edisi 05. Hal 7-9

Widyawati, Vivi, “Sejarah Gerakan Pembebasan Homoseksual”,Buletin Mahardhika,

Maret 2011,Hal.13-22.

Ryan, 2012, Gerakan Sosial, [Online] Tersedia :

http://www.riyanpgri.blogspot.com/2012/11/ciri-ciri-gersos.html?m=1

[01 Oktober 2013, 12.28 Wib]

Putri,Oktaviani, Makalah Ilmu Politik: New Social Movement, [Online] Tersedia :

http://www.oktavianiputriintsn.blogspot.com/2013/04/normal-0-false-false-false-in-x-none-x_1410.html?m=1

[02 Oktober 2013, 02.16 Wib]

[1] http://www.oktavianiputriintsn.blogspot.com/2013/04/normal-0-false-false-false-in-x-none-x_1410.html?m=1 [Rabu, 02 Oktober 2013 Pukul 02.16]

[2] http://www.riyanpgri.blogspot.com/2012/11/ciri-ciri-gersos.html?m=1 (diunduh selasa,01 oktober 2013 pukul 14.27 wib)

[3] Vivi Widyawati,”Sejarah Gerakan Pembebesan Homoseksual”,Buletin Mahardhika,Maret 2011,hal.13.

[4] Vivi Widyawati,Loc.Cit.,Hal.2

[5] Vivi Widyawati,Loc.Cit.,Hal.2

[6] Michel Foucault, seperti yang dikutip oleh Arif Saifudin Yudistira, “Menarik Benang Merah Seks dan Politik”, Majalah Bhineka Edisi 05. Hal.09

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s