Blog

Gerakan Perempuan Indonesia dalam Konteks Kekinian

Edison F.S Butar-butar [1]

Dewasa ini, gerakan perempuan di Indonesia sudah semakin menunjukan eksistensinya diruang publik. Hal ini dapat kita lihat begitu banyaknya wadah-wadah perjuangan perempuan yang ada di Indonesia. Kita memiliki Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Organisasi-organisasi perempuan mulai dari sabang sampai merauke, Lembaga Swadaya Masyarkat (LSM) yang menyandang isu-isu perempuan, bahkan ditataran akademisi kajian-kajian tentang feminsime, gender dan perempuan sudah semakin gencar di ajarkan dikampus-kampus. Seharusnya hal ini menjadi peluang besar bagi perjuangan perempuan serta menjadi amunisi yang seharusnya ampuh dalam menangani berbagai bentuk kekerasan yang dialami perempuan. Tetapi dibalik semakin gencarnya kajian-kajian feminisme, serta maraknya organisasi-organisasi perempuan yang ada kita malah dikejutkan dengan fakta bahwa dari tahun-ketahun kekerasan terhadap perempuan semakin meningkat, khususnya pada kasus kekerasan seksual.
Berbagai data disuguhkan kepada kita tentang tingginya angka kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Misalnya saja, Komnas perempuan memaparkan bahwa ada sedikitnya 35 perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual setiap harinya. Pada tahun 2012 data yang masuk kekomnas perempuan sebesar 4.336 kasus kekerasan seksual yang terjadi di Indonesia [2]. Di Jawa Tengah misalnya, ditahun 2013 kekerasan terhadap perempuan meningkat sebesar 13% dari tahun sebelumnya [3]. Sedangkan di Medan sendiri, Aliansi Sumut Bersatu melakukan pemantuan melalui 4 (empat) media lokal terdapat 208 kasus kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2013[4].
Melihat kenyataan diatas, mungkin kita akan bertanya-tanya mengapa ketika gerakan perempuan semakin eksis ditanah air, malah kasus kekerasan terhadap perempuan semakin meningkat. Penulis akan coba menjelaskannya melalui 2 (dua) kemungkinan yang saling bertentangan. Pertama,  merupakan indikator bentuk keberhasilan dari organisasi perempuan yang semakin hari semakin banyak. Kedua, sebagai alat untuk mempertanyakan kembali bentuk perjuangan gerakan perempuan di Indonesia. Penulis akan mencoba menjabarkan kemungkinan tersebut satu per satu.
Sebagai indikator keberhasilan gerakan perempuan.
Banyak yang berpendapat bahwa jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan yang terdata dan terus menunjukan angka yang tinggi dari tahun ke tahun bisa dijadikan alat ukur bahwa gerakan perempuan sudah menunjukan kinerja dan hasil yang lumayan bagus. Hal ini dapat dijelaskan dengan beberapa asumsi yaitu, Pertama, semakin banyak masyarakat khususnya perempuan yang sudah sadar bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan lagi menjadi urusan privat tetapi sudah menjadi urusan public, sehingga banyak korban kekerasan yang melaporkan kasusnya kepolisi, LSM atau organisasi perempuan. Kedua, kesadaran masyarakat atau korban melaporkan kasus tersebut dapat dimaknai sebagai bentuk keberhasilan gerakan perempuan yang terus melakukan penyadaran, kampanye dan aktivitas ideologisasi terhadap masyarakat terkhususnya perempuan. Ketiga jika dibandingkan dari masa sebelumnya ketika gerakan perempuan masih sangat minim dan bahkan masih bahkan pergerakannya masih terbatas, tidak banyak kasus yang bisa diungkap karena penyadaran terhadap korban juga masih sangat terbatas hal ini seolah-olah terlihat bahwa kekerasan terhadap perempuan tersebut menunjukkan angka yang rendah dibandingkan masa sekarang ini
Sebagai alat kritik untuk mempertanyakan kembali gerakan perempuan
Di sisi lain, tingginya angka kekerasan terhadap perempuan yang berbanding terbalik dengan semakin gencar gerakan perempuan juga semakin seringnya dikumandangkan isu-isu feminisme baik yang bersifat gerakan maupun kajian secara akademisi merupakan suatu bentuk “pukulan” bagi gerakan perempuan itu sendiri. Bagaimana tidak, semakin banyak orang yang “berteriak” hentikan kekerasan terhadap perempuan, malah semakin tinggi kasus yang terjadi. Apa yang salah?, mengapa demikian?. Sudah saatnya kita melakukan evaluasi terhadap gerakan perempuan di Indonesia. Sebuah gerakan tidak terkecuali gerakan perempuan haruslah dengan lapang dada menerima kritikan, karena gerakan muncul dari proses sosial yang terus berkembang dan berubah artinya perubahan itu juga mengharuskan kita melakukan rekontruksi strategi terhadap gerakan perempuan. tetapi, sebelum penulis mencoba melakukan evaluasi, ada baiknya kita melihat seperti apa bentuk dan starategi gerakan perjuangan perempuan ‘kebanyakan’ saat ini di Indonesia

Gerakan yang ahistoris..!!
Rata-rata gerakan perempuan saat ini dalam strategi perjuangan dan ideologisasinya
Lebih senang ‘berteriak’ untuk menghapuskan penindasan, kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan tanpa dibarengi pemahaman yang lebih mendalam tentang akar dari penindasan tersebut. Singkatnya gerakan perempuan saatnya kebanyakan mengesampikan dan menapikkan aspek historis atau sejarah penindasan itu sendiri. menurut penulis ini akan menjadi perjuangan yang kurang mapan, karna akan seperti makan sayur tanpa garam. Aspek sejarah menjadi hal yang sangat penting dipahami, karena melalui sejarah kita dapat membangun strategi perlawanan.
Politik “Kita Sama tapi Tak Serupa”
Semakin menjamurnya LSM perempuan, semakin menjamur pula esklusifisme gerakan.
Banyak gerakan perempuan yang akhirnya terkotak-kotak khususnya di kalangan LSM perempuan karena merasa bahwa program LSM yang satu tidak sama dengan LSM yang lain. Hal ini memicu terjadinya perjuangan ‘sendiri-sendiri’ bahkan sering memunculkan sikap apatis terhadap LSM yang lain. Menurut hemat penulis, ini akan berakibat terhadap menurunnya militansi dari gerakan perempuan itu sendiri, karena sikap apatis dan esklusifisme tadi menghambat terjadinya gerakan massa, gerakan bersama serta terciptanya konsolidasi-konsolidasi gerakan perempuan untuk menyusun strategi perjuangan bersama. Perbedaan ideologi bukan hal yang patut dihindari tetapi dipertemukan untuk memberi warna dan kekuatan terhadap perjuangan pembebebasan perempuan.

Perjuangan kurang tepat sasaran
Banyak organisasi perempuan di Indonesia yang hanya melakukan kegiatan program
Pemberdayaan terhadap perempuan saja, dengan mengesampikan pemenuhan kapasitas terkait strategi perlawan terhadap perempuan itu sendiri. Memang,kita tidak bisa menutup mata bahwa hal ini bermanfaat terhadap perempuan, menghasilkan perempuan-perempuan mandiri dibidang ekonomi, tetapi kita tidak bisa pastikan bahwa apakah dengan perempuan mandiri secara ekonomi pasti melepaskan perempuan dari jerat-jerat penindasan dan kekerasan. Karena ketika perempuan mandiri secara ekonomi tanpa dibarengi penyadaran yang radikal, maka dia juga tetap dituntut melakukan aktivitas ‘keperempuannya’ dirumah tangga dan keluarga.
Perjuangan perempuan adalah perjuangan identitas, bukan perjuangan kelas
Pandangan ini yang diilhami oleh banyak gerakan perempuan di Indonesia. Gerakan perempuan hanya sibuk mengurusi perjuangan identitas keperempuannya agar dapat dihargai dan diterima oleh laki-laki. Ketika laki-laki sudah menghargai perempuan atas identitasnya sebagai perempuan maka dapat dipastikan perempuan sudah merdeka, bebas berekspresi, bebas masuk keruang publik. Tetapi pertanyaannya adalah, apakah dengan perempuan sudah dihargai identitasnya sebagai perempuan, maka tidak ada lagi penindasan dan kekerasan terhadap perempuan ? penulis beranggapan belum tentu, karena penindasan dan kekerasan terhadap perempuan tidak hanya bersumber dari dominasi dan perbuatan laki-laki saja tetapi ada penindasan dan kekerasan structural yang dilakukan oleh sistem terhadap perempuan.
Melihat kondisi gerakan perempuan pada konteks kekinian diatas, maka tidak mengherankan bahwa kekerasan perempuan terus meningkat meskipun gerakan perempuan sudah bak jamur dimusim hujan. Jadi, bagaimana seharusnya gerakan perempuan dalam membangun strategi perlawan untuk menghancurkan tirani yang menindas perempuan. satu kata yang harus kita selalu pegang yaitu LAWAN..!!! bagaimana kita melawan ?
Bangun pergerakan yang berlandaskan aspek sosial dan sejarah
Gerakan perempuan yang militant sudah seharusya melihat aspek sejarah untuk amunisi perlawanan. Dengan mengetahui akar-akar sejarah penindasan terhadap perempuan, sejarah kondisi masyarkat primitive yang demokratis maka menambah alat perjuangan kita, serta memberikan landasan kepada kita ketika ‘berteriak’ menghentikan kekerasan terhadap perempuan.
Perjuangan perempuan adalah perjuangan kelas
Kapitalisme adalah sebuah sistem yang memproduksi tatanan sosial, budaya, hukum dan politik untuk melanggengkan kekerasan terhadap perempuan. kekerasan perempuan sering terjadi karena adanya perbedaan kelas, antara kelas penguasa dan kelas yang dikuasai. Misalnya saja, kekerasan terhadap perempuan buruh pabrik yang sering dilecehkan oleh pimpinan, diperkosa oleh pimpinan. Hal ini terjadi bukan semata-mata hanya karena patriarki saja, tetapi karena ada legitimasi kekuasan untuk melakukan hal tersebut. Ketika buruh perempuan menolak dan melawan maka dapat dipastikan dia akan kehilangan pekerjaan, ketika dilaporkan bisa saja pengakuan dari sang pimpinan, bahwa si buruh yang mengajaknya karena pimpinan punya banyak harta ataupun uang. Hal demikian juga sering terjadi antara dosen dan mahasiswi. Dimana ketika sang dosen pemengang control kekuasaan, akan lebih leluasa melakukan kekerasan ataupun pelecehan terhadap mahasiswi. Kita harus paham, untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan, kita juga harus berjuang untuk menghapuskan kelas yang diciptakan oleh sistem kapitalisme.
Contoh kasus lain, bahwa kapitalisme adalah sumber penindasan dan kekerasan terhadap perempuan adalah, ditengah gencar-gencarnya kampanye perempuan bisa beraktivitas diruang public, dan pada kenyataanya kita melihat itu tercapai. Banyak perempuan yang bekerja sebagai perempuan karir, kantoran yang juga menindas perempuan lain dengan  mempekerjakannya da sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) dengan upah yang sangat murah. Pada kasus ini, kapitalisme juga sudah masuk dan menjelma kedalam feminisme. Kekerasan ini terjadi karena adanya kesenjangan kelas yang dibentuk oleh kapitalisme.
Perjuangan perempuan adalah perjuangan rakyat
Sudah saatnya gerakan perempuan menyatu dengan gerakan rakyat seperti gerakan buruh, gerakan petani, gerakan mahasiswa. Karena tidak bisa lagi perempuan harus bergerak sendiri. tujuan dari penyatuan ini adalah, untuk semakin memperbesar kekuatan massa untuk melawan kekerasan terhadap perempuan. startegi ini seharusnya menjadi senjata pamungkas bagi gerakan perempuan Indonesia. Disamping bahwa buruh, rakyat, mahasiswa,petani dan perempuan memiliki musuh yang sama yaitu kapitlisme dan imperialisme, kita juga bisa memasukan ideologi feminisme kedalam gerakan-gerakan rakyat ketika kita sudah melebur didalamnya, hal ini dirasa perlu sebagai strategi dan propaganda perjuangan pembebesan perempuan
Tinggal menghitung hari tahun 2013 akan segera berakhir dan 2014 sudah diambang pintu. Tetapi apakah kita bisa dengan begitu gampangnya meninggalkan 2013 ini ?, tahun yang penuh dengan jejak kekerasan seksual terhadap perempuan, nada-nada jeritan kesakitan yang dialami oleh para perempuan korban kekerasan masih saja terngiang ditelinga, deretan kasus kekerasan seksual yang dari hari-hari terus bertambah. Apakah kita masih bisa tersenyum dan melenggak-lenggok menuju 2014? Tidak..!!! Kita harus marah, kita harus menangis, harus melawan dan harus bergerak.. resolusi 2014 adalah kita benahi gerakan perempuan Indonesia menjadi gerakan yang revolusioner, menerima kritikan, berkolektif serta mempunyai cita-cita yang sama yaitu sosialisme..
Sumber :
[1] Koordinator Divisi Pendidikan dan Sekolah Feminis Perempuan Mahardhika Medan
[2] http://www.komnasperempuan.or.id/2013/11/siaran-pers-kampanye-16-hari-anti
kekerasan-terhadap-perempuan-25-november-10-desember-2013/

[3] http://daerah.sindonews.com/read/2013/11/25/22/809946/kekerasan-perempuan-di
semarang-tinggi

[4] http://www.komnasperempuan.or.id/2013/11/pernyataan-sikap-aliansi-sumut-bersatu-asb
peringatan-16-hari-anti-kekerasan-terhadap-perempuan/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s