Blog

Keambiguan Peran Seksual dalam Relasi Gay

Pengkategorian manusia berdasarkan jenis kelamin biologis yaitu perempuan (vagina) dan laki-laki (penis) sesungguhnya tidaklah sampai disitu saja. Berdasarkan alat kelamin biologis itupula kontruksi-kontruksi sosial budaya diciptakan seperti perempuan adalah istri sedangkang laki-laki adalah suami, perempuan adalah feminine sedangkang laki-laki adalah maskulin, perempuan adalah wakil rumah tangga sedangkang suami adalah kepala rumah tangga dll. Kontruksi-kontruksi ini bahkan sering dijadikan sebagai indikator mengkaji berbagai permasalahn manusia, karena kontruksi ini diciptakan seolah-olah bersifat kodrati dan tidak bisa dirubah.
Dalam kehidupan relasi homoseksual juga tidak terlepas dari kontruksi itu. Misalnya saja dalam relasi Gay adanya peran seksual TOP dan BOT. TOP dan BOT lebih sering sebenarnya dipandang dari kemaskulinan dan kefemininan yang kemudian akhirnya menjadi acuan dalam melakukan hubungan seksual (walaupun tidak selalu seperti itu).
Apa sebenarnya penyebab terbentuknya top dan bot itu ? Mengapa dalam hubungan sejenis tetap ada dikatomi-dikatomi dengan batasan yang sangat jelas itu ? apakah memang dalam sebuah hubungan dua manusia harus ada batasan-batasan peran yang jelas? Apakah top dan bot adalah pengaruh heteronormatif atau bentuk politik homoseksual dalam ‘mengejek’ relasi heteroseksual?

Top dan Bot sebuah identitas dalam relasi gay
Secara umum dalam hubungan gay, ketika dua orang laki-laki mulai berkenalan dan ingin menjalin sebuah relasi, hal yang pertama sekali ditanyakan adalah apakah dia top atau bot. seorang yang mengindentifikasi dirinya top biasanya akan mencari orang yang mengidentifikasi dirinya bot. pondasi awal pengidentifikasi itu biasanya dari ekspersi seseorang. Seorang top biasanya akan terlihat lebih maskulin dari pada bot. makanya, ketika ada kasus top terlihat feminin akan menjadi olokan dikalangan kelompok gay.
Dalam relasi gay universal, top akan berperan seperti suami dalam hubungan heteroseksual sedangkan bot akan berperan sebagai istri. Kemudian dalam aktivitas seksual, biasanya top akan lebih aktif dari pada bot. jika dalam relasi heteroseksual istri menjadi kelas nomor dua dalam sebuah hubungan, demikian pula bot dalam relasi gay.
Diantara top dan bot biasanya masih ada identitas lain yaitu verstilise/flexible. Tetapi, itu tidak akan saya bahas dalam tulisan ini karena itu perlu pembahasan yang lebih spesifik lagi.
Jika pada awalnya top dan bot lebih menjuru pada bagaimana pembagian peran dalam aktivitas seksual, tetapi dalam sebuah relasi atau kita katakana saya pasangan gay yang membentuk keluarga, peran ini akan semakin memperlihatkan batasan yang jelas. Top harus menjadi kepala keluarga dengan cara bekerja diruang public, sedangkan si bot harus menjadi pelayan bagi si top. Mengurus rumah tangga, memasak, mencuci dan pekerjaan domestic lainnya. Sekiranyapun si bot juga bekerja diruang public, tapi peran ganda akan jatuh ketangan si bot.


Relasi Top dan Bot sebagai keambiguan

Dalam menganalisis peran top dan bot ini ada dua terminilogi umum yang sering dipakai yaitu.
1. Alat politik untuk ‘mengejek’ relasi heteroseksual
2. Alat politik untuk ‘menjatuhkan’ relasi homoseksual
Saya akan membahas yang pertama
1. Alat politik untuk ‘mengejek’ relasi heteroseksual
Dalam relasi heteroskesual terlihat jelas batasan-batasan antara perempuan dan laki-laki. Pemikiran awal terbentuknya batasan-batasan ini adalah factor jenis kelamin biologis. Bahwa mereka yang bervagina akan menjadi kelas nomor dua serta melakukan kerja-kerja domestic. Sedangkan mereka yang berpenis akan melakukan kerja-keja publik dan menjadi pemegang otoritas kekuasaan keluarga.
Dalam hubungan gay, batasan-batasan ini tercipta tidak memiliki dasar yang jelas, karena pasangan gay memiliki jenis kelamin biologis yang sama,hanya saja indikator yang sering digunakan adalah eksperi gender maskulin dan feminis. Jika kita kembali lagi pada relasi heteroseksual, meskipun seorang suami memiliki ekspresi gender yang feminin otoritas kekuasaan tetap harus berada ditangannya dan demikian sebaliknya, ketika seorang istri berekspresi gender maskulin tetap saja dia akan menjadi wakil dalam sebuah rumah tangga.
Terminologi pertama ini menunjukan bahwa dalam relasi gay terbentuk juga instutusi keluarga yang tidak ada bedanya dengan relasi heteroseksual. Ada suami-istri, papa-mama, maskulin-feminin, bapak rumah tangga-ibu rumah tangga. Artinya, jika ditelisik lagi relasi homoseksual khususnya gay tidak ada bedanya dengan relasi heteroseksual. Peran-peran dalam relasi heteroseksual dapat terjadi dalam dalam relasi gay, batasan-batasan dalam relasi heteroseksual dapat juga terjadi dalam relasi gay. Hematnya, terminologi menunjukan bahwa tidak harus menjadi heteroseksual dapat memiliki suami/istri, punya identitas papa/mama dll. Makanya, terminologi ini seakan ‘mengejek’ relasi heteroseksual.
2. Alat politik untuk ‘menjatuhkan’ relasi homoseksual
Terminologi yang kedua ini sangat bertentangan dengan yang pertama. Peran top dan bot dalam relasi gay seolah mengisyartkan bahwa relasi heteroseksual merupakan satu-satunya relasi yang benar dan akan menjadi sebuah indikator baku dalam pembentukan relasi apapun tidak terkecuali homoseksual. Hal lain juga menunjukan bahwa ketika homoseksual membentuk sebuah relasi, mereka tidak punya sebuah institusi-instusi yang diciptakan sendiri, mereka malah meniru relasi heteroskesual.
Dengan dasar meniru relasi heteroseksual itulah sehingga menjadi alat politik digunakan kelompok heteroskesual untuk menjatuhkan kelompok homoseksual. Dengan sendirinya kelompok heteroseksual akan dengan gampang mengatakan tidak ada yang dapat dicontoh dari sebuah relasi homoseksual, khususnya gay. Pada akhirnya relasi homoseksual memang menjadi sebuah relasi yang patut dihancurkan.
Terlepas dari anggapan itu, ada hal lain yang perlu kita telisik mengapa terminologi yang kedua ini bisa terjadi. Sejak manusia dilahirkan proses sosialisasi budaya telah ditelurkan oleh kedua orangtua pada sebuah relasi heteroseksual. Misalnya, ketika seorang bayi laki-laki lahir dari kecil dia akan diajarkan bersikap maskulin, melakukan kerja-kerja serta peran-peran yang dilakukan oleh ayahnya sendiri. hal itulah yang menjadi sebuah doktrin yang mengakar dalam pikiran si anak. Ketika nantinya sianak laki-laki itu bersifat feminin ketika dewasa, maka peran-peran yang akan ditirunya adalah peran ibunya atau perempuan. ini menjadi cikal bakal kembali ketika sianak menjalin relasi sejenis, dia menyadari ekspresi gender femininnya akan menuntutnya untuk bertindak sebagai perempuan atau ibunya pada relasi gay yang dia jalani nantinya kemudian dia akan mengidentifikasinya dirinya bot. setelah pengidentifikasin itu dia akan mencari pasangan seorang top. Seorang top akan melihat peran-peran yang dilakukan oleh ayahnya kemudian diaplikasikannya dalam relasi sejenisnya.
Bagaiman kita menyikapi ?
Menurut hemat saya, relasi apapun baik homoskesual ataupun heteroseksual haruslah menjadi relasi yang setara. Relasi heteroseksual sebaiknya tidak lah menjadikan jenis kelamin biologis menjadi dasar pembagian peran serta pencitpaan batasan-batasan yang berakibat pada penindasan manusia.
Demikian sebaliknya, top dan bot dalam relasi gay tidak seharunya menjadi acuan terjadinya penindasan terhadap manusia. Seharusnya relasi ini dapat menunjukan bentuk relasi setara, nantinya dapat menjadi contoh terhadap relasi heteroseksual.
Menurut saya, top dan bot cukup saja hanya sebagai identitas dalam melakukan aktivitas seksual tanpa harus melihat pertimbangan-pertimbangan kemaskulinan dan kefemininan seseorang. Karena pada tahap aktivitas seksual semuanya tergantung kenyamanan.
Relasi yang setara dalam relasi homoskesual (gay) saya kira lebih gampang diterima dari pada relasi heteroskesual. Maka dari itu, proses idiologisasi yang tepat dalam mengurangi penindasan manusia dalam sebuah relasi adalah dimulai dari relasi homoseksual yang setara yang nantinya dapat dilihat dan dicontoh oleh relasi heteroseksual itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s