Blog

Setelah Pesta Berakhir

Jalanan sudah sepi, tidak ada lagi gerombolan massa diatas mobil pick-up ataupun didalam angkutan umum dengan seragam kaos bermotif gambar wajah . Tidak ada lagi bendera dengan berbagai warna (merah, kuning, biru, hijau, oranye) dengan gagahnya dikibarkan bahkan ditanjapkan dijalanan sambil adu kegarangan. Tidak ada lagi rayuan, tidak ada lagi sembako dan kaos gratis. Manusia yang dulu dipanggil dengan simpatisan, akar rumput juga telah menyelesaikan tugasnya tanggal 9 april 2014, tepatnya pukul 07.00-13.00 WIB. Kemana mereka para simpatisan ?, dimana mereka yang mendapat sembako dan kaos? Kemana mereka yang ikut bergoyang ketika ada panggung rayuan?, mereka kembali ke peraduan masing-masing, beberapa perempuan hebat kembali mengais rupiah dari dagangan sarapan paginya dengan beratapkan spanduk berisi poto serta janji-janji para perayu, beberpa orang lagi kembali berkeliaran di jalanan sembari mencari penumpang, tak lupa becaknya dipayungi dengan spanduk yang sama seperti perempuan penjual sarapan pagi. Sedangkan yang lain kembali memeras keringat didalam pabrik-pabrik yang panas dengan upah yang tetap saja murah. bahkan beberapa orang masih bergaya dengan kaos motif wajah perayu. Bukan mereka mau promosi, tapi karena mereka tak punya uang lebih untuk membeli tenda untuk dijadikan atap becaknya dan baju baru. mereka kembali tak lagi peduli dan dipedulikan, bak sebuah pepetah kuno Habis Manis Sepah diBuang. Tetapi, sebenarnya mereka masih dibutuhkan lagi (nanti) menjelang hajatan 9 Juli 2014 mendatang. Sembako, spanduk pengganti tenda dan kaos barupun sudah tak sabar didapatkan.

Ketika kita sudah tahu nasib para simpatisan, sekarang kita coba bertanya bagaimana nasib para perayu itu?. Beberapa dari mereka ada yang sedang tertawa terbahak atas kemenangan dan segera mulai berfikir mengembalikan rupiah-rupiah yang sudah habis untuk sembako, kaos dan spanduk itu. ada juga yang sedang meratapi kekalahan, marah bahkan galau atas kehilangan rupiah-rupiahnya. pada sisi yang lain, para petinggi pemilik bendera sedang sibuk-sibuknya memikirkan siapa yang gandeng menjadi kawan dan siapa yang akan menjadi lawannya. Bahasa kerennya mereka bilang KOALISI. Bagaimana tidak, dari hasil hajatan tahun ini versi Quick Count tidak ada satu benderapun yang bisa berjuang sendiri untuk merebut kursi di istana negara. Bendera yang dulunya saling menghujat, menjatuhkan bahkan mencaci satu dengan yang lain, kali ini harus mengganti topeng penghujatan menjadi topeng yang dipolesi sedikit senyum, persahabatan ‘semu’, topeng yang dulunya mencari perbedaan mencolok kini topeng itu berusaha mencari persamaan yang sedikit dipaksakan. Tahun ini, Si banteng merah menjadi The Winner. Kemenangan ini disambut hangat oleh para elit-elitnya. Kemenangan sang banteng itu diasumsikan oleh para pengamat karena dua hal yaitu karena figur blusukan dan karena hasil ‘semedi’ selama 10 tahun ketika si bintang biru berkuasa dua periode. Diposisi kedua ternyata dipegang oleh si kuning selanjutnya di susul oleh si orange garuda. Malangnya, sebuah tamparan hebat bagi si bintang biru karena harus merelakan kekalahannya terhadap si banteng merah.
Kemenangan dan kekalahan yang dialami para bendera-bendera perayu itu sebenarnya sudah mereka terima dengan dengan lapang dada. Karena, sekarang mereka tidak lagi memikirkan siapa yang menang dan yang kalah. Bahkan yang paling memilukan adalah mereka sudah lupa dengan janji-janji, lupa dengan tangan-tangan kasar yang mereka salam ketika membagikan sembako dan kaos beberapa waktu lalu. Kali ini yang mereka ingat dan bahkan rancang adalah siapa, dengan cara apa, dan bagaimana untuk mendapatkan kursi empuk digedung DPR-RI dan nantinya di Istana Negara. Hal yang mereka lakukan untuk melancarkan itu adalah dengan mencari ‘kawan sementara’ dan melihat lawan-lawannya. Pencarian kawan ini pun tidaklah seindah mencari kawan ketika di bangku Sekolah. Meskipun sepertinya bekerjasama tetapi tujuan yang mau dicapai adalah tujuan benderanya sendiri karena fungsi utama dari koalisi ini adalah untuk meningkatkan keuntungan bendera sendiri, mementingkan satu hal dan kemenangan lebih berarti dari segalanya termasuk rakyat. Oleh karena itulah para elit ini harus berfikir keras, kira-kira seperti ini yang mereka fikirkan “ketika si A lebih kuat Dari si B, maka si A akan mendekati si B untuk dijadikan kawan tetapi tujuannya adalah tetap bisa menguasai si B, ya maklum si B kan lebih lemah. Tetapi si B juga tidak mau diam, dia biasanya akan menghindari si A dan mencari si C yang kekuatannya bisa jadi sama ataubahkan lebih lemah. Ketika si B dan si C menyatu maka mereka akan menjadi lawan si A. sering juga terjadi meskipun si B dan C sudah menyatukan kekuatan tetap saja kalah terhadap terhadap si A akan sedikit menyombongkan diri. Tetapi si B dan C biasanya tak tinggal diam, mereka berdua akan merayu-rayu si A agar berkenan bergabung bersama mereka. Biasanya dalam kasus ini, tidak lagi adu kekuatan tetapi adu rayuan gombal yang bisa menghipnotis si A”. begitulah rumitnya mencari kawan dikalangan para elit pemilik bendera itu sehingga mereka dijadikan amnesia terhadap orang-orang yang sudah menusukkan paku ke gambar-gambar mereka dibilik suara kemarin. seiring mereka meributkan dan bagi-bagi kekuasaan itu, dilain sisi, parah pencoblos kelas bawah kembali tetap terancam oleh panasnya bumi karena tidak ada lagi pohon, kembali menikmati pendidikan yang mahal bahkan semakin mahal tetapi tidak berkualitas, para buruh kembali menikmati upah yang murah hasil dari penangguhan oleh mereka-mereka yang sedang bagi-bagi kekuasaan tersebut, kematian para ibu dan anak kembali lagi marak karena mahalnya biaya kesehatan. Jerat-jerat penindasan kepada kelompok minoritas agama, minoritas seksual, suku kembali menjadi santapan yang tidak tahu kapan akan selesai. Kesakitan-kesakitan yang terjadi ini, sebenarnya beberapa hari lalu sudah dijanjikan untuk disembuhkan oleh para mereka perayu, tetapi lihatlah sekarang mereka mungkin sudah lupa itu, karena mendapatkan kursi adalah tujuan mereka saat ini. nantinya ketika kursi sudah didapatkan, maka kesakitan ini pun dapat dipastikan tidak akan tersebuhkan, selama sistem yang ada masih saja tunduk terhadap para pemilik modal. Dimana segala kesakitan itu berasal dari ide-ide para pemilik modal. Bahkan mereka yang medapatkan kursi adalah calon-calon prajurit pemilik modal yang sekarang sedang terbahak-bahak dan mengangakan mulutnya, menunggu para pemenang kursi akan menjadi santapannya. Pelipur lara bagi para pencoblos kelas bawah adalah ketika akan dibagikannya lagi sembako, kaos dan rupiah-rupiah itu beberapa hari lagi menuju 9 Juli 2014 dan juga 5 tahun kedepan.

Beginilah kondisi hajatan untuk memilih para penguasa yang selalu terjadi, masyarakat hanya dijadikan objek rayuan setiap 5 tahun sekali, setelah itu penyakit lupa ingatan terhadap masyarakat pun terjadi dan akan kembali pulih 5 tahun mendatang. Bermodalkan rayuan, kaos, spanduk, sembako bahkan uang maka kursi-kursi di gedung parlemen akan menjadi milik para perayu tersebut, kursi empuk digedung parelemen menjadi alat penting untuk mengembalikan rupiah-rupiah yang telah terkoyak untuk masyarkat. Sejak kursi didapatkan sampai kursi itu akan segera dilepaskan lagi dalam waktu 5 tahun, jarang sekali bahkan tidak pernah ada tatap muka, jabat tangan dengan para masyarakat kelas bahwa. Karena para elit anggota dan pemilik bendera itu memang sudah amnesia total bahwa sejarah keberadaan mereka tidak semata-mata hanya untuk kekuasaan tetapi juga untuk kepentingan rakyat. Bahkan ketika sudah memperoleh kekuasaan mereka sudah lupa caranya menyeimbangkan perilaku mencari kekuasaan dan memperjuangkan rakyat. Untuk menggenapi nubuat undang-undang bahwa setiap anggota masyarakat memiliki hak untuk terlibat aktif dalam pemerintahan, sudah saatnya masyarakat bergerak aktif dan terlibat dalam pemerintahan tersebut bahkan harus terlibat dalam pemilihan umum. Tetapi ada masalah besar yang dihadapi oleh masyarakat, khususnya masyarkat kelas bawah atau pekerja yaitu pertama, tidak adanya modal politik yang dimiliki karena tidak pernah adanya pendidikan politik yang diberikan oleh pemerintah terhadap rakyat secara berkelanjutan. Masyarakat hanya dibagikan kaos, sembako dan diajarkan cara memilih setiap 5 tahun sekali. Kedua, sistem pemilu elit yang menjadi ancaman bagi masyarakat kelas bawah. Bagaimana tidak, sistem pemilu di negara ini adalah sistem pemilu dengan polesan uang ratusan juta bahkan miliaran. Jelas ini tidak dapat dipenuhi oleh masyarakat kelas bawah, upah rendah yang mereka dapatkan dari para pemilik modal hanya ‘dipaksakan’ cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Makanya, tidak mengherankan orang-orang yang maju ke pemilu adalah para meliki modal. Artinya harus adanya sistem pemilu prorakyat bukan proelit penguasa yang memiliki modal sangat banyak. Ketiga, sistem ekonomi politik yang hanya memaksa para masyarkat untuk terus saja bekerja dengan upah rendah, dan juga konsep kerja lembur yang dirancang untuk adanya tambahan upah membuat para pekerja hanya fokus menjadi tenaga produksi bagi pengusaha tanpa ada waktu untuk mengembangkan potensi demi terpenuhinya modal politik. Ketiga hal diatas sebenarnya menjadi tanggung jawab pemerintah negara ini, tetapi itu hanya menjadi harapan ketika kita hanya menunggu pemerintah akan melakukan hal tersebut. Karena pemerintah negara ini juga merupakan bagian dari para pemilik modal dan penguasa yang tidak akan mungkin merubah ketiga hal diatas, karena jika itu dirubah maka menjadi ancaman besar bagi mereka sendiri. sudah saatnya masyarakat yang bergerak secara mandiri, berani mengambil resiko, membentuk kekuatan yang mandiri pulak untuk memenuhi modal politik merek demi terciptanya kehidupan politik yang baru, bersih dan pro rakyat di Indonesia. Salah satu caranya adalah, dengan membangun koletifitas serta organisasi politik yang pro-raykat. Organisasi ini akan mengambil peranan penting dalam pemenuhan modal politik bagi masyarakat.

2 tanggapan untuk “Setelah Pesta Berakhir”

  1. Setuju… Sukses buat kamu Dika,jalani apa yg kamu jalani.
    Tuhan sdh mengatur smuanya.
    Gay bukan penyakit,virus yg harus dihindari atwpun dijauhi. Gay itu memiliki harga diri,martabat. Gay itu bebas berkreasi seprti org2 pd umumnya.

    Intinya Gay itu manusia 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan ke ikbal Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s