Blog

Anak Korban Sodomi/Pedofil dan Potensi menjadi homoseksual, adakah hubungannya?

Pendahuluan

Baru-baru ini, masyarakat sedang dikejutkan dengan pemberitaan seorang anak laki-laki berumur 5 tahun mengalami pelecehan dan kekerasan seksual di sebuah sekolah bertaraf internasional di Jakarta. Pelaku yang sudah ditetapkan menjadi tersangka adalah dua (2) orang dewasa, seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bekerja sebagai cleaning servis disekolah tersebut. Sesungguhnya, fenomena kekerasan seksual terhadap anak oleh orang dewasa sudah sering kita dengar ditelevisi atau baca di surat kabar. misalnya murid terhadap guru, kakek terhadap cucu atau seorang ayah terhadap anak dll. Tetapi kasus yang diterjadi Jakarta International School (JIS) menjadi begitu “sexy”karena beberapa hal. Pertama , sebuah sekolah yang bertaraf internasional dimana espektasi masyarakat terhadap security system sekolah tersebut sangat tinggi, ternyata bisa kebobolan juga. Kedua, kasus ini menjadi sangat ramai diperbincangkan karena dikaitkan dengan institusi itu sendiri, tentang izin sekolah, bahkan hingga perbincangan tentang kurikulum yang diajarkan. Ketiga, kasus ini melibatkan para pengacara-pengacara ternama di Indonesia yang dipercaya dapat menyelesaiakan kasus ini secara pidana maupun perdata. Berbeda dengan kasus yang terjadi disekolah-sekolah biasa, atau dikalangan masyarakat menengah kebawah hanya diselesaikan dengan kekeluargaan saja, dapat dimaklumi karena ketidak mampuan para orangtua korban yang tidak mampu membayar para pengcara ternama.

Tulisan ini tidak membahas lebih jauh tentang kasus yang terjadi di Jakarta International School (JIS), tetapi tulisan ini berusaha membahas secara general kasus-kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak yang sering dikaitkan dengan potensi si anak menjadi seorang homoseksual ketika sudah dewasa. Pada tulisan ini, penulis berusaha mencari korelasi pernyataan tersebut dengan beberapa argumen yang penulis ajukan.

Sekilas tentang Pedofilia[1]

Sebelum berbicara tentang pedofilia ada baiknya kita berbicara tentang ketertarikan atau orientasi seksual. Defenisi paling sederhana tentang orientasi seksual adalah kepada apa atau siapa kita tertarik secara seksual, emosional, psikologis dan spiritual secara seks atau jender, penentuan ini dipilih secara bebas dan merdeka. Dari defenisi tersebut sehingga dapat kita lihat bahwa ada dua indikator yang digunakan dalam orientasi seksual untuk menentukan nama (identitas) dari orientasi yang dimiliki seseorang yaitu seks atau jender.

Kedua hal ini menjadi penting diperhatikan karena ini adalah dua hal yang berbeda, dan kedua hal ini yang sering mengalami kerancuan dalam masyarakat. tertarik secara seks merujuk pada seseorang yang memberikan identitas seksualnya berdasarkan seks (jenis kelamin biologis) yang dimiliki orang tersebut. Misalnya, Seorang yang memiliki penis (alat kelamin laki-laki) tertarik kepada seseorang yang memiliki vagina (alat kelamin perempuan), maka nama dari orientasi ini dinamakan heteroseksual, sama halnya ketika tertarik kepada alat kelamin yang sama dinamakan homoseksual. Sedangkan ketertarikan berdasarkan jender merujuk pada seseorang yang menamakan identitas seksualnya berdasarkan jender (jenis kelamin sosial) yang dimilikinya, seperti perempuan, laki-laki ataupun transjender (female to male / male to female). Artinya aspek seks (jenis kelamin biologis) tidak begitu diperhatikan pada penamaan ini. Misalnya, Seseorang yang menamakan dirinya laki-laki (tanpa harus melihat apakah dia memiliki penis atau vagina) tertarik kepada seeorang yang menamakan dirinya perempuan (tanpa harus melihat apakah dia memiliki penis atau vagina), maka nama dari orientasi ini adalah heteroseksual, demikian sebaliknya ketika ketertarikan terhadap jender yang sama dinamakan homoseksual. Kerancuan yang sering terjadi dimasyararkat adalah selalu menganggap bahwa antara seks (jenis kelamin biologis) yang dimiliki seseorang selalu sama dengan jender (jenis kelamin sosial) yang dimiliknya. Memang, secara pelabelan dikatomis yang dilakukan masyarakat itu pasti sama, karena dalam masyarakat selalu menganggap bahwa hanya ada dua jenis kelamin yaitu laki-laki (penis) dan perempuan (vagina). Faktanya dilapangan, banyak kita temui kasus seseorang yang tidak nyaman dan tidak mau mengidentifikasi dirinya sesuai harapan-harapan sosial-budaya masyarakat. Sehingga ada kasus dinama identitas seksualnya tidak selalu sama jika dilihat dari aspek seks atau jendernya ( dari aspek seks heteroseksual, secara jender homoseksual). masalah apakah itu adalah gangguang kejiwaan, gaya hidup atau hak asasi seseorang tidak akan penulis bahas dalam tulisan ini.

Seorang pedofil sebenarnya secara orientasi tidak ada bedanya dengan orang-orang yang bukan pedofil, karena ketertarikannya juga kepada manusia dan berdasarkan seks atau jender juga. Hal yang membedakannya hanyalah pada tataran usia. Ketertarikan seksual kepada manusia yang didefenisikan sebagai anak-anak menjadi sebuah penyimpangan bahkan aktivitas seksual yang dilakukan terhadap anak-anak didefenisikan sebagai kekerasan seksual. Hal itu dikarekan, dalam frame Hak Asasi Manusia manusia yang berumur dibawah 18 tahun disebut anak. Sehingga ada perlakuan khusus yang diberikan, seperti dalam UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, pasal 57 (1) menyatakan bahwa anak berhak untuk dibesarkan, dipelihara, dirawat, dididik, diarahkan dan dibimbing kehidupannya oleh orangtua atau walinya sampai dewasa dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Artinya, dari pasal diatas bahwa secara psikologis anak-anak diyakini belum mampu menjadi seorang yang mandiri atau berfikir dewasa sehingga harus dibawah kontrol orangtua hingga berumur 18. Kemudian jika undang-undang diatas menjadi acuan, artinya seorang anak belum mampu menentukan seksualitasnya sendiri mulai dari orientasi hingga identitas seksualnya. Sehingga aktivitas seksual yang melibatkan anak (pedofil) menjadi sebuah kesalahan dan kekerasan dan wajib dipidana, hal ini selajutnya diatur di UU No.39 Tahun 1999 tentang HAM Pasal 58 (2).

Sebenarnya, jika meninjau kembali pasal diatas, melihat kondisi sekarang sudah sangat tidak revelan lagi. Dengan perkembangan teknologi dan informasi sekarang ini, anak-anak sudah semakin gampang mendapatkan informasi yang berpengaruhi terhadap perkembangan seksualitas si anak. Misalnya, tayangan sinteron ditelevisi yang sering menunjukan anak-anak (SD,SMP dan SMA) sudah berpacaran, iklan-iklan di televise yang mengekspoitasi tubuh perempuan, situs-situs porno yang marak beredar di internet bahkan sering di bagikan memalui media sosial. Hal ini jelas mempengaruhi perkembangan seksualitas si anak, perasaan ingin mencoba dan rasa penasaran. Makanya sekarang sudah hal yang biasa ketika anak-anak SD berpacaran, bahkan pada taraf yang lebih jauh, beredar situs-situs porno yang diperankan anak-anaka SMP. Tetapi pertanyaannya, apakah kita menghalangi perkembangan teknologi-informasi? Jawabannya tidak mungkin. Hal yang lebih mungkin dilakukan sekarang ini adalah memberikan pendidikan berbasis jender dan seksualitas kepada sianak sedini mungkin. Tidak zamannya lagi berbicara seksualitas dijadikan sebuah pembicaraan yang tabu dan sakral. Karena semakin disakral dan ditabukan, tingkat penasaran seseorang semakin tinggi.

Bagaimana nasib anak korban pedofil dimasa depan ?

           Pertanyaan diatas, sering terlontar ditengah-tengah kita ketika seorang anak menjadi korban pedofil. Jawaban yang kita temuipun beraneka ragam, antara lain : (1) anak akan mengalami trauma, ketakutan berlebihan, mengigau ketika tidur dll, (2) ketika dewasa, sianak akan menjadi pelaku sodomi dan atau seorang pedofilia. (3) anak laki-laki korban sodomi, ketika dewasa akan menjadi seorang gay, sedangkan anak perempuan yang korban sodomi atau korban pedofil akan menjadi lesbian. Dalam tulisan ini, penulis akan mencoba membahas ketiga-tiga jawaban diatas.

  1. Trauma pada anak

Seorang ahli psikologi Bernama B.A Lonergan mengatakan bahwa suatu kondisi yang dialami seseorang akibat kejadian yang dialami atau disaksikan oleh individu, yang mengancam keselamatan orang tersebut[2]. Ahli lain mengatakan bahwa trauma adalah suatu reaksi yang alamiah terhadap peristiwa yang mengandung unsure kekerasan sepererti kekerasan massa, pemerkosaan, kecelakaan, bencana alam atau bahkan kondisi dalam hidup seperti kemiskinan (Stamm (1999). Pickett (1998) mengatakan ada dua kondisi yang dialami oleh korban trauma yaitu : pertama, adanya ingatan terus menerus tentang peristiwa tersebut. Kedua, mengakibatkan mati rasa atau kurangnya respon individu terhadap lingkungan.

Dalam kasus pedofilia , selain secara hukum ini merupakan sebagai bentuk kekerasan, penulis juga sepakat bahwa ini adalah kekerasan seksual. Karena menurut penulis, kekerasan seksual tidak hanya ketika korban dipaksa ataupun diikat dll. Tetapi bujukan atau iming-iming juga merupakan sebuah kekerasan. Sering sekali pelaku kekerasa seksual baik terhadap anak ataupun orang dewasa (perempuan) menggunakan senjata ini, dengan cara membujuk atau meiming-imingi sikorban, misalnya pada anak memberikan uang, permen dll. Artinya jika hal ini merupakan bentuk tindak kekerasan, jelas akan membentuk suatu kondisi yang traumatik pada si anak, seperti defenisi diatas. Tetapi yang tidak pernah kita tahu, atau hanya sebatas prediksi saja adalah trauma dalam bentuk seperti apa yang akan dialami sianak?, karena setiap indvidu memiliki respon trauma yang tidak selalu sama. Seperti yang dijelaskan diatas, apakah si korban akan selalu mengingat peristiwa tersebut atau bisa jadi mati rasa atau kurangnya respon terhadap lingkungan?. Mencari jawaban atau menduga trauma seperti apa yang akan dialami anak korban pedofil sebenarnya tidak menjadi hal yang sangat krusial diperbincangan, karena yang ada hanya prediksi. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana para psikiater dapat mencegah, mengurangi bahkan menyembuhkan trauma tersebut. Pada poin ini, penulis sepakat bahwa anak korban pedofil atau dalam hal yang lebih luas korban-korban kekerasan seksual baik anak-anak atau orang dewasa akan mengalami trauma.

  1. Korban akan menjadi Pelaku

Pernyataan kedua ini, menurut penulis hal yang lebih bersifat politis yang bisa saja didorong oleh respon traumatik sikorban yang selalu mengingat peristiwa tersebut, artinya ada unsur balas dendam serta perebutan/pembentukan kekuasaan dalam diri sikorban. Dapat dipahami bahwa dalam kacamata politik biasanya pelaku kekerasan merupakan indvidu pemegang kekuasaan sedangkan korban adalah powerless. Artinya ketika seorang anak yang notabanenya adalah human political akan mengambil alih kekuasaan tersebut dengan menyodomi orang lain ketika dia dewasa. Tetapi tidak semata-mata setiap orang yang suka menyodomi adalah korban pedofil ketika anak-anak, dan kemudian tidak semua anak-anak korban pedofil akan menjadi seorang yang senang menyodomi ketika dewasa.

Pernyataan korban menjadi pelaku, tidak dapat kita generalisasi pada setiap kasus kekerasan terhadap anak. Misalnya saja, banyak laki-laki yang mendapatkan kepuasan seksualnya dengan cara penitrasi penis-anus ( sodomi) baik laki-laki heteroseksual, biseksual maupun homoseksual. Bukan berarti mereka adalah orang-orang korban sodomi ketika kecil. Pertanyaan penting juga, bagaimana ketika ada seorang anak korban sodomi ketika dewasa dia juga merasa mendapatkan kepuasaan melalui sodomi? Artinya dia tetap menjadi korban bukan menjadi pelaku? Pernyataan kedua bisa saja lumpuh dengan fakta yang ada. Pertanyaan lain adalah, bagaimana ketika seorang anak perempuan yang menjadi korban sodomi? Apakah dia akan menjadi pelaku sodomi ketika dewasa? Mungkin kita sama-sama tau, apa defenisi dari sodomi atau penitrasi penis-anus. Menurut hemat penulis, pernyataan ini tidak selalu dapat dibenarkan, kembali lagi kita harus melihat bagaiama si korban memberikan respon terhadap kejadian ketika dia dewasa.

  1. Korban pedofil akan menjadi homoseksual, Laki-laki menjadi Gay, Perempuan menjadi Lesbian.

Pernyataan ketiga ini lah yang sering menjadi momok paling ditakuti oleh orangtua ketika anaknya adalah korban pedofil . Penulis bisa memahami hal tersebut tetapi tidak dapat menerimanya, artinya memahami adalah penulis menyadari bahwa kita hidup didalam masyarakat yang sangat heteroksisme, artinya sebuah masyarakat yang mengangung-agungkan kebenaran, keabsahan relasi heteroseksual (kepada lawan jenis) , diluar dari relasi heteroseskual (homoseksual, biseksual) adalah penyimpangan, penyakit bahkan dosa. Penulis tidak dapat menerima hal tersebut karena, menurut penulis sangat tidak ada korelasi ketika seorang anak korban pedofil akan menjadi homoseksual ketika dewasa. Penulis hanya sepakat ketika seorang anak korban pedofil bisa menjadi pelaku pedofil ketika dewasa, itupun hanya dalam beberapa kasus saja. Menurut penulis setiap anak apakah dia korban pedofil ataupun tidak memiliki potensi apakah menjadi seorang heteroseksual, homoseksual ataupun biseksual.

Pernyataan penulis diatas, berangkat dari pengertian orientasi seksual oleh WHO (1992) yang menyatakan bahwa orientasi seksual adalah ketertarikan terhadap seseorang baik kepada lawan jenis (heteroseksual), sesama jenis (homoseksual) atau keduanya (biseksual) secara seksual, emosianal, psikologis dan spritual. Selanjutnya WHO mengatakan bahwa heteroseksual, homoseksual, biseksual adalah varian-varian dari orientasi seksual yang mempunyai kedudukan sama dengan tidak ada mana yang lebih benar dan yang lebih salah. Selanjutnya dijelaskan juga bahwa homoseksual bukan merupakan penyakit ataupun gangguan jiwa, pernyataan ini juga diadopsi oleh Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia (PPDGJI).

Kembali kepada kasus pedofil diatas, menurut penulis seorang anak yang ketika dewasa memiliki ketertarikan kepada sejenis (homoseksual) bukan karena dia pernah mengalami sodomi ketika kecil. Tetapi seorang anak menjadi homoseksual atau heteroseksualpun adalah karena perasaan yang datang dari hati sianak, rasa nyaman yang dimilikinya terhadap sejenis ataupun lawan jenisnya. Karena dalam menentukan orientasi seksual harus ditentukan secara bebas dan merdeka tanpa ada paksaan. Memang, sering kita jumpai banyak para kelompok homoseksual yang sering mengaku bahwa dia menjadi seorang homoseksual khususnya gay adalah karena dia pernah menjadi korban sodomi ketika kecil. Tetapi, kita harus melihat kondisi sosial, budaya dan politik kita kembali yang selalu mendiskriminasi ataupun merendahkan homoseksual. Artinya, jika kondisi seperti ini, jawaban atas kehomoseksualitasannya adalah dengan melemparkan kesalahan terhadap oranglain (pelaku sodomi), agar oranglain merasa iba dan menganggap dia tidak penyakit ataupun pendosa. Ada pertanyaan besar yang perlu kita pahami bersama, yaitu apakah semua pelaku sodomi adalah homoseksual? Banyak kasus dilapangan, bahwa laki-laki heteroseksual juga banyak pelaku sodomi artinya apa? Ada kekeliruan dalam pikiran kita dalam membedakan orientasi seksual dengan perilaku seskual yang pada dasarnya memang berbeda. homoseksual adalah orientasi seksual, sedangkan sodomi adalah perilaku seksual. Artinya homoseksual ataupun heteroseksual memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukan ataupun tidak melakukan sodomi.

Pernyataan yang menyatakan ketika seorang anak laki-laki korban pedofil akan menjadi gay, sedangkan perempuan akan menjadi lesbian. Kedua pernyataan ini menurut penulis sangat rancu. Pernyataan ini menjadikan posisi korban diletakan dalam defenisi yang berbeda. coba kita lihat, keseringan memang pelaku pedofil adalah laki-laki, tetapi bukan berarti tidak ada perempuan, kasus di Jakarta International School seorang pelakunya adalah perempuan. coba kita analisis satu persatu. Banyak yang beranggapan ketika pelaku adalah laki-laki dan korban adalah laki-laki maka biasanya korban akan menjadi seorang gay, artinya dalam perkembangannya sikorban menikmati interkasi seskualnya terhadap sesama jenis, sedangkan ketika korbannya perempuan dengan pelaku yang sama biasanya orang mengatakan korban akan menjadi lesbian, artinya ada kemarahan dan ketakutan sikorban terhadap seorang laki-laki ketika dia dewasa. korelasi ini sebenarnya sangat dipaksakan, menurut penulis ini adalah tafsir yang beredar dimasyarakat atas sifat homophobia (ketakutan terhadap homoseksual), penulis berani mengatakan hal tersebut karena tidak pernah ada orang tua atau masyarakat merasa takut dan khawatir anaknya yang pernah menjadi korban sodomi /pedofil menjadi seorang Heteroseksual ketika dia dewasa, lihat saja ketika seorang anak perempuan menjadi korban oleh laki-laki dewasa, biasanya akan dikatakan menjadi lesbian tidak menjadi heteroseksual. sedangkan, ketika anak laki-laki menjadi korban laki-laki dewasa akan dikatakan menjadi gay. Padahal pelakunya adalah sama yaitu laki-laki.

Kesimpulan

Dari pemaparan penulis diatas, dalam beberapa kasus penulis sepakat ketika seorang anak korban sodomi/pedofil akan mengalami trauma ketika dewasa dan dalam beberapa kasus juga korban akan dapat menjadi seorang pelaku sodomi ataupun pedofil, bukan menjadi seorang homoseksual (gay atau lesbian). Karena menjadi pelaku sodomi atau pedofil tidak selalu berhubungan dengan orientasi seksualnya. Sekali lagi penulis tekankan, homoseksual ataupun heteroseksual memiliki kemungkinan untuk menjadi pelaku sodomi tidak hanya homoseksual saja dan tidak semua homoseksual pelaku sodomi.

Sikap homophobia (ketakutan berlebihan terhadap homoseksual) selalu menjadi dasar terbentuknya pemikiran dan serta paranoid dikalangan orangtua ketika anaknya pernah menjadi korban pedofil. Coba kita berfikir sejenak, bagaimana ketika masyarakat atau negara ini tidak pernah mengkriminalkan, menganggap bahwa homoseksual adalah penyakit jiwa, penyimpangan dapat dipastikan paranoid itu tidak akan terbentuk. Misalnya, negara-negara yang melegalkan pernikahan sejenis, tentunya sikap paranoid itu tidk terbentuk. Tetapi bisa saja yang terbentuk adalah sikap paranoid yang kedua (korban menjadi pelaku). sikap paranoid ini juga sangat berpengaruh terhadap psikologi para kelompok homoseksual, kelompok ini akan merasa semakin diintimidasi, dikucilkan. Mereka akan merasa bahwa mereka adalah korban-korban pedofil bukan karena rasa nyaman ataupun ketertarikan emosional yang tercipta dari hati mereka masing-masing. Sudah sepatutnya kita menghargai keberagaman orientasi seksual tanpa harus mengkriminalisasi salah satu orientasi tersebut. Karena berbicara orientasi seksual merupakan bagian dari hak dasar dan hak asasi yang dimiliki oleh setiap manusia. Setiap manusia mempunyai hak untuk menentukan perasaan cintanya, perasaan sukanya terhadap siapapun baik lawan jenis ataupun jenis selama dia tidak merugikan orang lain dan didasari atas suka sama suka.

 

 

Referensi

Lonergan,B.A (1999). The Development of Trauma Therapist: A Qualitative Studi of The Therapist’s Perspective and Experiences. Colorado : Counselling Psychology.

Stamm,B.H.(1999). Secondary traumatic Stress. Self Care Issues for Clinicians, Researchers & education.MD:Sindran Press.

Pickett.G.Y.(1998). Therapist In Distress: An Integrative Look at Burnout,SecondaryTraumatic Stressand Vicarious Traumatization.Disertation, University of Missouri-St.Louis   .

Undang-undang Republik Indonesia No.39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia

[1] Ketertarikan seksual seseorang (orang dewasa usia 18 tahun ke atas) terhadap anak-anak (umur 18 tahun kebawah).

[2] Lonergan,B.A (1999). The Development of Trauma Therapist: A Qualitative Studi of The Therapist’s Perspective and Experiences. Colorado : Counselling Psychology

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s