Blog

Temanku Berkata Bahwa Dia Gay, Apa yang Sebaiknya Kamu Lakukan?

Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah segera beralih dari rasa terkejut dan bingung and mencoba berpikir rasional. Ini kedengaran mudah walau sulit, namun bukan berarti tidak mungkin dilakukan. Menjadi homoseksual pada kultur budaya masyarakat kita akan membawa konsekuensi besar akan tabu sosial serta pengucilan. Bukan hal yang mudah bagi siapapun untuk menghadapi pengabaian dimana homoseksual menjadi subjek atas perlakuan tersebut, baik kepada orang yang merasa dirinya gay, atau bagi orang-orang yang peduli kepada mereka.

Hal wajar ketika kamu merasa sedang menjadi subjek atas stigma yang diasosiasikan kepada gay yang kemudian menjadi desakan untuk menarik diri adalah hal yang naluriah. Dibutuhkan karakter dan kepercayaan diri yang besar untuk menaklukkan stigma yang meletakkan kemunafikan sebagai hal yang benar. Dalam hal ini, kita tidak perlu ragu untuk meyakini bahwa berada disamping teman kita adalah hal yang benar.

Dengan memahami realitas situasi tersebut, kamu akan merasa lebih baik dalam menanggapi hal tersebut. Bagi pemula, kamu perlu menyadari bahwa temanmu adalah orang yang sama bahkan ketika dia belum mengetahui apa yang dia rasakan. Dia masih sama, yang berubah adalah porsi pengetahuan personal di antara kalian. Sekarang kamu tahu sesuatu yang sangat intim dan berpotensi mengubah hidup temanmu. Memang, tidaklah mudah memahami bahwa teman kita bukanlah apa atau siapa yang kita kenal selama ini, namun apakah orientasi seksual menjadi satu-satunya alasan untuk tidak menjadikan kalian “best friend”? saya berharap itu tidak demikian.

Pada saat ini kamu perlu menelisik lebih dalam tentang apa anggapanmu tentang persahabatan dan apa yang sebenarnya menjadi dasarnya. Gunakan kesamaan yang masih kalian miliki untuk menjaga kewajaran dalam persahabatan sementara kalian berdua menyesuaikan diri dengan apa yang telah berubah. Jangan pernah menganggap bahwa dia menjadi gay dikarenakan kamu, itu adalah hal yang akan dijelaskan lebih lanjut pada poin berikutnya.

Ini adalah asumsi yang terlalu umum dari para pria straight yang bertemu pria gay dan menganggao bahwa pria gay tersebut “menginginkan” mereka. Faktanya adalah temanmu tetap memandangmu sebagaimana dia selalu menganggapmu teman. Tidak karena dia sedang mengeksplorasi seksualitasnya berarti dia juga hendak mengeksplorasinya denganmu. Hal yang tidak mungkin baginya selaku homoseksual menyukaimu, sebagaimana hal yang mungkin bagi perempuan straight untuk tidak tertarik padamu. Kecuali terdapat pengakuan yang mengindikasikan bahwa pengakuannya didasarkan pada keinginannya untuk memiliki hubungan romantis denganmu. Jauhkan semua ketakutanmu bahwa dia tertarik pada hal lain melebihi hubungan pertemanan kalian.

Alasan nyata mengapa dia menceritakan hal personalnya padamu selaku “best friend” adalah bahwa dia menginginkan adanya kestabilan hubungan perteman saat ini, Dia ingin memiliki seseorang yang dapat diandalkan ketika perasaannya menjadi tidak terkendali. Ini adalah sebuah pengakuan yang luar biasa atas hubungan  pertemanan kalian pada saat dia memerlukanmu dalam situasi tersebut, hal yang menguatkan rasa hormatnya padamu dan atas semua yang kamu lakukan sebagai teman. Kamu seharusnya merasa tersanjung, bukan sebaliknya malah merasa takut.

Pengakuan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan siapapun, bahkan amat sulit bila kamu adalah seorang remaja. Remaja yang sudah terbiasa dengan identitas “normal” ketika mengalami sesuatu yang dipandang rendah oleh masyarakat seperti menjadi gay, akan membuat remaja tersebut mengalami kebingungan yang hebat. Hal biasa bagi remaja homoseksual dari kedua gender untuk mengabaikan desakan alamiah tersebut dan memilih tetap menjadi heteroseksual “sesuai norma” namun dengan dorongan balas dendam yang tidak sehat. Banyak remaja gay kemudian mencoba mengompensasikan hal tersebut dengan menjadi pribadi yang amat straight dalam perilakunya, dimana dalam kondisi penolakan akan identitas tersebut dapat bertindak lebih homofobik ketimbang remaja straight anti-gay umumnya.

Remaja gay memiliki tingkat kemungkinan bunuh diri yang lebih tinggi dibandingkan dengan remaja sebaya mereka yang straight, mereka melaporkan mengalami ketidaknyamanan selama mengikuti aktivitas di sekolah dan memiliki hubungan keluarga yang renggang. Bagi remaja yang “menyembunyikan identitasnya” hal-hal negatif jauh lebih terasa. Hal yang mudah bagimu untuk menerima atau tidak, namun pengakuan temanmu adalah hal paling baik yang dapat dia lakukan, baik untuk persahabatan kalian, maupun bagi kedamaian pikirannya sendiri. Kamu juga harus memiliki pemikiran yang sama tentang persahabatan ketika dia dengan jelas menginginkan dukunganmu.

Kamu tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya menjadi orang lain. Apa yang dapat kamu lakukan adalah tetap realistis dengan situasi yang ada, bagaimanapun kondisinya. Orientasi seksual temanmu hanya akan memiliki dampak kecil bagimu ketimbang pilihannya pada ketergantungan alkohol, penyalahgunaan narkotika, kestabilan kondisinya serta dampaknya bagi performa akademis. Hal yang akan berdampak besar bila kemudian kamu kehilangan teman yang kamu sayangi. Teman terbaikmu telah percaya padamu dan persahabatan kalian telah cukup memberanikannya untuk membuat pengakuan padamu. Gay cenderung akan melakukan pengakuan pertamakali kepada mereka yang mereka percaya dan kepada mereka yang dia butuhkan dalam hidupnya. Bila kamu merasa bahwa dia adalah teman terbaikmu, inilah saatnya untuk melakukan suatu hal yang berarti bagi hubungan persahabatan kalian.

Jauhkan semua ketakutan irasionalmu dengan berdiskusi dengannya secara terbuka. Katakan padanya pada kamu ingin menolongnya namun kamu juga membutuhkan dukungan. Pastikan dia tahu apa yang kamu rasakan setelah memastikan bahwa dia mengetahui perasaaanmu saat ini tidak akan menghentikanmu menjadi sahabat baginya. Tetapnya bersama temanmu, dukunglah ketika dia membutuhkannya, biarkan dia menceritakan padamu apa yang dia butuhkan dari persahabatan tersebut dan berikan itu padanya semampumu. Ketika semua telah dilakukan, dia tetap menjadi teman yang kamu sayangi bahkan sebelum adanya pengakuan tersebut. Apa yang akan kamu rasakan ketika kamu mengabaikannya pada saat dia membutuhkannya? Akhirnya, “teman akan tetap teman sampai akhir”, meskipun akhir dari semuanya akan menjadi awal yang baru bagi pertemanan kalian.

Artikel ini merupakan saduran dari artikel asli: https://www.pflagatl.org/my-friend-says-he-is-gay-what-should-i-do  dengan penyesuaian seperlunya oleh tim penerjemah Cangkang Queer.

Blog

Bagaimana Bendera Pelangi Menjadi Simbol Kebanggaan LGBTQ?

Bulan Juni dikenal sebagai Bulan Kebanggaan LGBTQ (LGBTQ Pride Month), sebagai bentuk penghargaan atas kerusuhan Stonewall, yang terjadi di kota New York pada Juni 1969. Selama Pride Month, bukanlah hal aneh melihat bendera pelangi berkibar dengan megahnya sebagai simbol bagi perjuangan hak-hak LGBTQ. Namun, bagaimana bendera tersebut menjadi simbol kebanggaan LGBTQ?

Alkisah pada tahun 1978, ketika seniman Gilbert Baker, seorang yang secara terbuka mengaku dirinya Gay dan juga merupakan seorang waria, mendesain bendera pelangi untuk pertama kalinya. Baker kemudian mengungkapkan bahwa beliau didesak oleh Harvey Milk, satu dari pejabat Amerika Serikat yang secara terbuka menyatakan dirinya gay, guna menciptakan simbol berupa sebuah bendera dikarenakan beliau berpendapat bahwa bendera adalah simbol yang paling kuat guna menunjukkan kebanggaan. Sebagaimana beliau kemudian menyampaikannya dalam sebuah wawancara, “Tugas kita sebagai seorang gay adalah untuk berani mengungkapkan diri, untuk dapat dilihat, untuk hidup dalam kebenaran, sebagaimana saya sampaikan, untuk keluar dari kebohongan. Bendera akan benar-benar memenuhi misi tersebut, karena hal tersebut adalah jalan untuk memproklamasikan eksistensi kita atau berkata , “Inilah aku yang sebenarnya!” Baker memandang bahwa pelangi sebagai bendera natural dari langit, sehingga beliau mengadopsi delapan warna dalam bentuk garis, setiap warna memiliki arti masing-masing (pink cerah berarti seksi. merah berarti kehidupan, oranye berarti peyembuhan, kuning berarti sinar mentari, hijau berarti alam, pirus berarti seni, nila berarti harmoni, dan ungu berarti semangat).

Versi pertama dari bendera pelangi dikibarkan pada 25 Juni 1978 ketika parade Hari Kebebasan Gay San Fransisko. Baker dan tim sukarelawan membuatnya dengan tangan mereka sendiri dan saat itu beliau ingin untuk memproduksi massal bendera tersebut untuk semua orang. Namun, dikarenakan alasan produksi, garis warna pink dan pirus kemudian dihapus dan warna nila kemudian diganti dengan warna biru polos, yang kemudian menghasilkan bendera enam warna kontemporer (merah, oranye, kuning, hijau, biru dan ungu). Inilah yang menjadi varian paling umum dari bendera pelangi saat ini, dengan garis warna merah di atas, sebagaimana terdapat di pelangi yang terjadi secara alamiah. Beragam warna yang muncul merefleksikan baik keanekaragaman yang kuat serta persatuan komunitas LGBTQ.

Baru pada tahun 1994 bendera pelangi benar-benar ditetapkan sebagai simbol kebanggaan LGBTQ. Pada tahun itu Baker membuat versi bendera dengan panjang 1 mil untuk perayaan 25 tahun kerusuhan Stonewall. Saat ini bendera pelangi menjadi simbol internasional bagi kebanggaan LGBTQ dan dapat dikibarkan dengan penuh kebanggaan, baik pada periode yang menjanjikan maupun periode sulit, di seluruh dunia.      
*Artikel ini merupakan terjemahan dari Artikel yang ditulis oleh Nora Gonzalez pada laman berikut: https://www.britannica.com/story/how-did-the-rainbow-flag-become-a-symbol-of-lgbt-pride. Disunting dan diedit seperlunya oleh Tim Penerjemah.

Blog

10 Gambaran Fakta Mengenai Hak-Hak LGBTQ di Dunia

Hak-hak LGBTQ amat bervariasi di seluruh dunia, bahkan pada negara yang kita anggap telah menerimanya secara inklusif.

Sebuah survey yang dilakukan Thomson Reuters Foundation dan aplikasi jodoh Hornet pada tahun 2020 menemukan bahwa satu dari tiga orang lelaki gay merasa tidak aman baik secara fisik maupun emosi ketika di rumah.

“Ini adalah periode krisis bagi kesetaraan LGBTI di Eropa,” kata Evelyne Paradis, Direktur Eksekutif ILGA-Europe, dalam sebuah pernyataan. “Seiring tahun berjalan, semakin banyak negara, termasuk yang dulunya mengakui kesetaraan LGBTI, bahkan mengalami penurunan komitmen bagi kesetaraan kaum LGBTI, dimana semakin banyak pemerintah yang melakukan tindakan agresif yang menargetkan komunitas LGBTI.”

Tanggal 17 Mei adalah Hari Internasional Melawan Homophobia, Transphobia dan Biphobia, guna memperingati momen ketika World Health Organization (WHO) menghapus homoseksual dari Klasifikasi Penyakit dan Masalah Kejiwaan pada tahun 1990.

Business Insider telah menyusun 10 gambaran fakta guna merepresentasikan secara visual sejauh apa keragaman hak-hak LGBTQ di seluruh dunia dan sejauh mana kita dapat terlibat untuk mencapai penerimaan dan kesetaraan sepenuhnya.

Aktivitas seksual LGBTIQ dapat berujung pada Hukuman Mati di Beberapa Negara

Aktivitas seks sesama jenis dapat berujung pada hukuman mati di Afghanistan, Brunei, Iran, Mauritania, Nigeria, Qatar, Arab Saudi, Somalia, Sudan dan Yaman.

Sebanyak 68 negara masih mengkriminalkan Homoseksual, banyak diantaranya adalah negara mayoritas muslim di Timur Tengah, Asia Tenggara serta Afrika.

Meskipun dianggap tabu, homoseksual pada prakteknya tidak dianggap ilegal di banyak daerah di Indonesia. Namun, bagi Provinsi Aceh yang diatur dengan Hukum Syariah yang ketat, kegiatan seks sesama jenis dapat dihukum dengan hukuman cambuk di depan umum.

Sehubungan dengan larangan keikutsertaan Militer yang dicanangkan oleh Presiden Trump, masih 19 negara yang mengizinkan Transgender untuk mengabdi secara terbuka di Angkatan Bersenjata.

Belanda adalah negara pertama yang memperbolehkan Transgender masuk militer pada 1974, menurut CNN.

Thailand adalah satu dari beberapa negara yang kemudian menerima angota militer dari kaum Trans, namun hanya mengizinkan mereka untuk mengabdi dalam kapasitas sebagai tenaga administrasi.

Meskipun Homoseksual legal, namun terdapat ketentuan yang menyulitkan hidup secara terbuka

Di Rusia, menyebarluaskan “proganda hubungan seksual non-tradisional” bagi anak-anak adalah hal yang ilegal menurut ketentuan hukum federal.

Kritikus berpendapat bahwa hal tersebut masih dianggap jauh untuk dapat melarang perayaan parade Pride Month atau bahkan menangkap seseorang yang teridentifikasi sebagai bagian dari komunitas LGBTQ di sosial media.

Hanya 28 negara yang telah melegalkan Pernikahan Sesama Jenis

Italia, Swiss, Polandia dan Yunani adalah beberapa negara yang masih tidak mengakui kesetaraan pernikahan.

Negara pertama yang mengakui Kesetaraan Pernikahan adalah Belanda pada tahun 2001

Pada Mei 2019, Taiwan menjadi negara Asia pertama yang mengakui pernikahan sesama jenis.

Brazil, Ekuador, dan negara kecil kepulauan Mediterania yang bernama Malta, adalah tiga negara yang melarang Terapi Konversi

Di Amerika Serikat, 20 negara bagian -termasuk New York, California, Massachusetts, Utah, Maryland serta Virginia- telah melarang terapi yang mengubah orientasi seksual atau identitas gender anak dibawah umur.

Hal ini juga merupakan upaya yang sedang dilakukan guna melarang praktik tersebut di seluruh negara, seperti misalnya Kanada, Chili, Meksiko, Jerman dan negara lainnya.

Hanya 5% dari negara anggota PBB yang telah memiliki ketentuan dalam konstitusi negara mereka yang melarang diskriminasi berbasis orientasi seksual

Afrika Selatan adalah negara pertama yang menyertakan perlindungan orientasi seksual dalam konstistusi negara mereka, yang dilakukan pada tahun 1997.

Banyak negara yang telah membuat banyak kemajuan dalam penanganan diskriminasi atas orientasi seksual di tempat kerja

Di Afrika, semisal di Angola, Bostwana, Mozambique, Afrika Selatan dan Seychelles adalah beberapa negara yang melarang diskriminasi berbasis orientasi seksual di tempat kerja.

Beberapa negara di luar Eropa dan Amerika yang mengizinkan pasangan sesama jenis untuk mengadopsi anak

Israel tidak mengizinkan pernikahan sesama jenis, namun mengizinkan pasangan sejenis untuk melakukan adopsi.

Pada Februari 2020, Mahkamah Agung Israel memerintahkan agar pasangan gay diizinkan untuk akses perwalian. Pengadilan tinggi memberi tenggat waktu satu tahun bagi anggota parlemen untuk mengamandemen undang-undang dimaksud.  

*Artikel ini merupakan terjemahan dari Artikel yang ditulis oleh Shayane Gal dan Ashley Collman pada laman berikut: https://www.businessinsider.com/lgbtq-rights-around-the-world-maps-2018-10?r=US&IR=T Disunting dan diedit seperlunya oleh Tim Penerjemah. 

Blog

PERJALANKU MENJADI SEORANG ALLY

Oleh : Calrichaa

Saya hanyalah seorang siswi berusia 16 tahun saat itu, saat saya pertama kali mengetahui budaya menjodoh-jodohkan salah satu anggota di band dengan anggota lainnya. Yang membuat saya heran adalah, semua  anggota band tersebut adalah pria! Dan yang paling membuat saya heran adalah pembuat “perjodohan” itu kebanyakan adalah para penggemar wanita dari band tersebut. Saat itu, saya masih termakan budaya laki-laki hanya boleh dengan perempuan, dan juga sebaliknya karena seperti itulah kodrat yang sudah ditentukan oleh tuhan. 

Memang, saya juga bukan orang yang sangat religius, namun saat itu saya yang sedang memperdalam ilmu agama dengan mengikuti organisasi kerohanian islam merasa menjodohkan pria dengan pria adalah salah. Saya juga merasa kenapa pria bisa tertarik dengan pria juga? Apakah wanita cantik sudah lenyap? Saya ingat betul saat itu Cameron Diaz masih hidup. Lalu apakah mereka lupa dengan adzab kaum Nabi Luth?.

Berita yang tak kalah mengejutkan akhirnya muncul, ternyata teman dekat saya adalah gay. Sungguh, saat ia mengakui hal ini saya sangat terkejut. Saya tau ia kemayu, tapi menjadi penyuka sesama jenis sungguh sangat mengejutkan. Namun akhirnya ia menjelaskan mengapa ia merasa dan menyatakan diri sebagai gay, dan jujur penjelasannya masih membuat saya bingung. Untungnya, saat itu saya jua sedang mempelajari feminisme, sehingga saya masih tetap bisa menerima pengakuan dia.

Meski berat rasanya untuk menerima pengakuan teman saya tersebutu, saya akhirnya memutuskan untuk mengulik lebih lanjut tentang berbagai orientasi seksual yang ada di dunia. Ya, seperti yang kalian bisa tebak, saya sangat terkejut ternyata ada begitu banyak orientasi seksual di dunia ini, dan setelah saya mempelajarinya, bertahun-tahun setelahnya saya malah bingung dengan orientasi seksual saya sendiri. Karena saya rasa, saya bisa menyukai perempuan, saya juga menyukai laki-laki. Rasanya seperti menelan ludah sendiri untuk mendukung komunitas LGBTQ+ ini, namun saya lebih baik menelan ludah tersebut daripada terus-terusan menjadi manusia yang tidak bisa memanusiakan orang lain.

Saat memasuki dunia kuliah, saya makin aktif mengikuti artikel di salah satu majalah online feminis Indonesia. Dari sana saya makin banyak tahu tentang feminisme dan bagaimana caranya menjadi ally. Saya juga belajar banyak dari idola-idola saya seperti Demi Lovato, Troye Sivan, dan Little Mix. Bagaimana mereka membuat lagu tentang semangat mendukung komunitas LGBTQ+, dan juga berbagai dukungan lainnya. 

Pengalaman paling mengharukan saya sebagai seorang ally adalah ketika teman saya kedapatan menjadi gay oleh keluarganya. Teman saya panik, menangis sejadi-jadinya kepada saya karena ibunya tidak juga berhenti menangis sebab takut masuk neraka akibat anak laki-lakinya menjadi gay. Akhirnya saya menenangkan teman saya, dan mengajaknya kembali pulang ke rumah untuk saya mediasi. Saya berusaha meyakinkan ibunya bahwa menjadi gay bukanlah hal yang buruk. Semua orang punya takdirnya sendiri, dan tuhan pun tidak mungkin mengizinkan sesuatu terjadi tanpa kuasa-Nya. 

Ibunya masih juga bersi keras kalau menjadi gay adalah sebuah kesalahan. Akhirnya teman saya pun meyakinkan ibunya bahwa ia tidak akan pernah berubah hanya karena ia gay. Saya pun membantunya meyakinkan dengan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada kaum Nabi Luth. Sejatinya, cerita yang selalu digunakan tersebut mendapat kesalahan penafsiran. Cerita sesungguhnya kenapa mereka diberikan azab adala, mereka sangat amat tidak menghormati manusia. Setiap orang yang memasuki wilayah mereka diharuskan menyerahkan tubuh mereka untuk raja dan para tantara. Di sana juga banyak terjadi pemerkosaan, bahkan di siang hari. Sebab itu lah mereka tertimpa azab dari tuhan.

Akhirnya, ibu dari teman saya ini pun sedikit membuka hatinya untuk menerima orientasi seksual teman saya. Sungguh, rasanya senang sekali saat itu. Rasanya ada beban di dada ini yang terangkat. Akibat dari peristiwa ini membuat saya ingin berusaha makin keras dalam memperjuangkan hak para LGBTQ+ terutama di Indonesia. Ayo mulai memanusiakan manusia, karena sejatinya semua orientasi seksual adalah valid!

Blog

Bagaimana Menjadi Sekutu? Proses Penyembuhan dan Pembelajaran

Oleh : Gadis Bhinneka

Allies atau dalam Bahasa Indonesianya artinya sekutu (untuk selanjutnya aku memakai kata sekutu). Kata ini sering digunakan teman-teman LGBTQ untuk menamakan dia atau mereka hetero yang mau sama-sama berjuang untuk kemanusiaan teman-teman LGBTQ. 

Kata sekutu pertama aku dengar tahun lalu ketika aku diperbolehkan untuk hidup bersama teman-teman LGBTQ selama lima hari empat malam. Kami menghabiskan waktu mulai dari tidur bersama, makan bersama, bekerja bersama, belajar bersama, tertawa bersama, mencoba untuk menyembuhkan diri bersama. Boleh ku bilang itu adalah salah satu pengalaman berhargaku. Saat mendengar kata ally disebutkan untuk diriku sesungguhnya aku bingung, terlebih-lebih karena aku tidak tau artinya dalam bahasa Indonesia saat itu. Terimakasih teman-teman kalian menambah kosa kata ku.

Setelah kebingung dengan arti kata dan akhirnya mengetahui artinya. Ku kembali bingung dan berpikir mengapa mereka sebut aku sebagai sekutu?. Jika boleh aku berpede diri, mereka menerima diriku dan memberi rasa percaya padaku. Dan begitu sebaliknya. Menjadi sekutu adalah ikatan dua belah pihak. 

Penerima dan memberikan percaya adalah sebagaian hasil dari proses. Bukan muncul dari ketiadaan. Bagiku proses beberapa waktu kami (aku dengan teman-teman LGBTQ) lalui bersama adalah proses pembelajaran dan penyembuhan diri. 

Hidup di zaman yang membenci dengan membabi buta tanpa landasan kepada teman-teman LGBTQ banyaknya mempengaruhi pola pikirku sebelumnya. Mereka adalah kesalahan, penyakit, pendosa, tidak beriman, gaya hidup (?) yang salah. Mengingat ini buatku kadang tertawa sekarang, betapa bodohnya aku dulu. Ini langkah awal pembelajaranku kesadaran atas kesesatan pikiranku.

Ku memilih untuk melepaskan stigma-stigma jahat dari kepalaku dengan berbahagia. Teman-teman LGBTQ bukan ada karena kehidupan masa lalu yang kelam seperti ayah atau ibu yang jahat sehingga membuat mereka membenci lawan jenisnya. Kurangnya ibadah atau iman. Ikut-ikutan kehidupan barat. Pengalaman dengan pacaran yang orang racun. Atau tertular dari seorang yang memiliki orientasi seksual bukan hetero. Mereka bukan pembawa bencana ataupun kesialan bagi orang lain. 

Sekali lagi itu semua adalah stigma dan kesalahan. 

Orientasi seksual mereka sewajarnya orientasi seksual kita, para hetero. Sewajar itulah seharusnya. 

Kesulitan kita menerima kewajaran ini nyatanya sangat berdampak ke kehidupan mereka. Penghinaan, diskrisminasi, penolakan, perasaan tidak aman, pemiskinan. Banyak cerita teman-teman yang harus menjalani hidup yang keras sejak kecil atau remaja karena terusir dari rumah, harus melacurkan diri untuk bertahan hidup, ditolak lingkungan, tidak bisa bekerja atau bersekolah.

 Kesulitan-kesulitan dihadapi bahkan sampai berakibat mereka kehilangan nyawa atau martabatnya sebagai manusia. Contoh terdekat  seperti kejadian Mira, seorang waria, yang dibakar hidup-hidup dengan tuduhan tidak mendasar  dibilang maling atau youtuber sampah Ferdian yang membuat konten yang juga sampah prank memberi sembako sampah ke teman-teman waria. 

Pengalaman pahit ataupun tragedi kemanusiaan ini buatku sadar bahwa perjuangan teman-teman bukan hanya kebebasan berekspresi seperti yang selama ini dijadikan bumerang bagi mereka. 

Aku ingat yang dikatakan Kanza Vhina atau teman-teman lain. Perjuangan mereka bukanlah sebatas melegalkan perkawinan sesama jenis. Itu terlalu jauh dan terlalu sempit. Kesempatan mengakses pendidikan, pelayanan kesehatan, administrasi sebagai warga negara tanpa diskriminasi, hinaan. Pendapat pekerjaan yang layak secara aman. Perasaan aman untuk tinggal dirumah sendiri. Perjuangan untuk hidup selayaknya manusia.

Seperti yang ku tuliskan diatas, ini merupakan proses pembelajaran dan penyembuhan diri. Yah.. penyembuhan diriku, membebaskan diri dari racun-racun kebencian tak mendasar,  prilaku diskriminasif, pewajaran atas dehumanisasi seorang manusia, matinya empati. 

Membuka mata melihat dunia ini seperti bendera pelangi. Ada berbagai macam warna yang mengisinya. Mereka semua  indah dan merupakan satu ke satuan. Bukan hanya hitam atau putih.

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk ikut mendukung perjuangan teman-teman LGBTQ. Semua tergantung pada konteks dan keadaannya. Namun menurutku, pertama yang harus dilakukankan adalah merekontruksi pemikiran. Kita mulai dari membuat ladasan berpikiri yang baru dengan menghancurkan pemikiran  tentang stigma atau kesalahan informasi yang selama ini bersarang dipikiran kita mengenai teman-teman LGBTQ. Sehingga jika nanti kita memiliki keluarga, anak atau sahabat apapun  orientasi seksual mereka. Kita bisa menyatakan mengatakan bahwa itu adalah sebuah kebanggaan bukan kesalahan.

Blog

Adil dan Beradab : Cara Pandang atas Kelompok LGBT

Oleh : Stef

“Kita harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan,” -Pramoedya Ananta Toer-

Kalimat kakek Pram diatas menjadi yang pertama sekali terbesit dipikiranku ketika ingin membuat tulisan ini. Bagaimana kita menjadi seorang allice atau sekutu bagi kelompok minoritas yakni Lesbian, Gay, Transgender, and Bisexual (LGBT). Tak bisa dipungkiri, sampai saat ini LGBT kerap kali mendapatkan tindakan diskriminasi dari masyarakat.

Stigma yang negatif serta ortodok agama, nilai sosial dan moral menjadi acuan dan pedoman bagi banyak orang untuk membenci kelompok LGBT. Laporan dari Human Rights Watch (HRW) menunjukkan bahwa kepanikan moral (moral panic) anti LGBT sudah ada sejak awal 2016.

Bahkan hasil survei dari Saiful Mujani Reaserch Center (SMRC) pada 2016-2017 menunjukkan bahwa 41,1% responden tidak setuju LGBT berhak hidup di Indonesia. Hasil riset tirto.id dua tahun kemudian juga menunjukkan sebanyak 55,72% responden sangat setuju dengan pernyataan “menjadi LGBT adalah salah”.

Hal ini juga dapat dibuktikan dengan kasus yang baru-baru ini terjadi yakni Mira seorang transgender yang dibakar hidup-hidup tanpa melalui proses apapun. Bahkan sampai sekarang pihak kepolisian belum berhasil untuk mengusut tuntas kasus ini.

Yang paling buat geger media dan kalangan adalah aksi prank yang dilakukan oleh youtuber asal Bandung Ferdian Pelaka dimana memberikan bungkus sampah dan batu kepada teman-teman waria dengan dalih pembagian sembako.

Tak hanya di kalangan masyarakat, bahkan sikap diskriminasi terhadap LGBT merambah ke dunia akademik yang dimana seharusnya menjunjung tinggi budaya kritis serta toleransi. Ini bisa dibuktikan dengan kasus saya di tahun lalu yakni Pembredelan Pers Mahasiswa SUARA USU dikarenakan sebuah cerpen bertemakan seorang perempuan yang menyukai sesama perempuan. 

Alhasil saya dan 17 orang teman saya dipecat sebagai pengurus. Lagi-lagi alasan yang dikemukakan adalah bahwa mahasiswa harus menaati norma serta nilai-nilai sosial yang ada di masyarakat. Ironis.

Padahal LGBT bukan lah penyimpangan sosial ataupun agama yang sering digaungkan oleh banyak orang. Atau mengatakan bahwa LGBT adalah suatu penyakit dan wadah penyebaran HIV/AIDS. Sejatinya kita harus memahami bahwa kelompok LGBT merupakan bentuk dari orientasi seksual seseorang.

Yang dimana orientasi seksual merupakan istilah dari ketertarikan secara seksual, emosional, serta jenis kelamin terhadap orang lain. Faktanya, berbicara seksualitas menjadi hal yang tabu hingga saat ini. Sehingga sering terjadinya gagal paham dari berbagai pandangan. Bahwa seksualitas dipahami sangat sempit sebagai hubungan seksual semata.

Secara garis besar orientasi seksual mencakup heteroseksual (ketertarikan seksual terhadap lawan jenis), homoseksual (ketertarikan seksual terhadap lawan jenis), serta biseksual (ketertarikan seksual pada kedua jenis kelamin). 

Namun ada berbagai bentuk lainnya seperti adroseksualitas (memiliki ketertarikan maskulinitas), gineseksual (memililki ketertarikan terhadap feminitas), aseksual (orang yang tidak memiliki ketertarikan seksual), demiseksual (ketertarikan seksual yang muncul ketika adanya ikatan hubungan yang kuat), panseksual (ketertarikan seksual kepada segala jenis gender termasuk transgender, transseksual serta gender queer), queer (semua identitas non gender dan non heteroseksual), dan autoseksual (kepuasan seksual yang berasal dari rangsangan dalam dirinya sendiri).

Semuanya merupakan konsep diri dan terjadi secara alami tanpa paksaan apapun. Sudah seharusnya kita lebih terbuka terhadap literasi agar tak gagal paham. Kurangnya edukasi serta pengetahuan menjadi landasan munculnya kekerasan terhadap kelompok LGBT .

Pun orientasi seksual merupakan bentuk hak privasi dari dalam diri seseorang yang tak bisa di ganggu gugat. Hal ini diatur di dalam undang-undang pasal 28 G ayat 1 yang mengatakan bahwa “Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang berada dibawah kekuasaannya, serta berhak dari rasa aman dan perlindungan dari ketakutan ancaman….”

Kita juga harus menyadari bahwa kelompok LGBT juga manusia. Mereka sama seperti manusia lainnya. Itu artinya mereka juga mempunyai hak yang sama.  Lantas mereka tak berhak untuk didiskriminasi dan menerima tindakan kekerasan bahkan sampai menghilangkan nyawa seseorang. 

Ini pun turut diatur di dalam undang-undang pasal 28 I ayat 1 yang mengatakan “hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di depan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang surut, adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun”.

Dari semua penjelasaan diatas sudah sangat jelas bahwa kita sepatutnya untuk membela mereka yang termarjinalkan. Bahwa apa yang terjadi kepada kelompok LGBT merupakan suatu bentuk pelanggaran HAM dan penindasan. Sudah sepatutnya kita sebagai manusia yang berakal dan berhati nurani untuk tidak diam akan hal ini.

Pahami lah bahwa nilai sosial dan moral bukan sesuatu yang mutlak. Nilai-nilai sosial dan moral merupakan budaya yang diciptakan dan sewaktu-waktu dapat berubah. Begitu juga dengan agama. Saya yakin, agama manapun mengajari kita untuk tidak saling menyakiti sesama manusia.

Sadari lah bahwa kita tinggal di negara yang berlandaskan Pancasila serta bersimbolkan bhineka tunggal ika. Perbedaan itu indah dan kita harus memupuk persatuan dan toleransi agar tak bias. Sehingga perwujudan dari sila kedua yakni kemanusian yang adil dan beradab menjadi nyata eksekusinya. Karena kemanusiaan tumbuh saat kita bersikap adil dan menerima orang lain.

Blog

OPEN RECRUITMENT! Staff Part Time Kampanye Online Cangkang Queer

oprec

Cangkang Queer adalah organisasi berbasis komunitas yang berlokasi di Medan dengan fokus isu pemenuhan hak-hak individu/komunitas dengan SOGIESC tertindas (LGBTIQ) di wilayah Sumatera Utara. Dalam mewujudkan visi dan misinya, Cangkang Queer membentuk beberapa pilar dengan salah satu pilarnya adalah Kampanye. Saat ini Cangkang Queer membutuhkan staff part-time kampanye online untuk mempermudah kerja-kerja team kampanye organisasi. Adapun gambaran tentang posisi yang ditawarkan adalah : Lanjutkan membaca “OPEN RECRUITMENT! Staff Part Time Kampanye Online Cangkang Queer”

Blog

Coming Out (Melela)

Coming out atau dalam bahasa Indonesia disebut melela adalah sebuah proses menunjukkan diri, memberi tahu tentang Sexual Orientation Gender Identity Expression and Sex Characteristic (SOGIESC) kita kepada orang lain. Misalnya teman dekat, rekan kerja, pasangan, dan orang tua. Coming out dapat menjadi proses yang kompleks dan kerap melibatkan perasaan binggung, takut, rasa bersalah, malu, gembira, hingga lega.

Hanya individu terkait yang tahu cara dan waktu yang tepat untuk membuka diri kepada orang sekitarnya. Coming out sebuah proses yang sangat jarang dilakukan oleh seseorang karena berhubungan dengan ruang aman dan nyaman seseorang. Seseorang yang ingin coming out harus memiliki pertimbangan dengan matang, atau bahkan telah siap menerima konsekuensi jika hal yang tak diinginkan menimpanya. Lanjutkan membaca “Coming Out (Melela)”

Blog

Melakukan Hubungan Seks Sejenis di Lapas Bukan Berarti Gay

Melakukan hubungan seks sesama jenis belum tentu punya orientasi seksual sesama jenis juga. Kedua hal tersebut tak selalu sinkron.

Berdasarkan kasus yang dikutip oleh Suara.comDampak kelebihan kapasitas pada lembaga pemasyarakatan (Lapas) atau Rumah Tahanan Negara (Rutan) dapat menyebabkan sifat perubahan orientasi seksual pada narapidana. Narapidana bisa jadi gay dan lesbian di penjara. Lanjutkan membaca “Melakukan Hubungan Seks Sejenis di Lapas Bukan Berarti Gay”